Kamis, 05 Februari 2009

contoh Pemurtadan dengan lembaran2 yang menyesatkan

Kita bersyukur kepada Allah SWT bahwa atas kasih karunia dan berkatNya bangsa Indonesia dapat melenyapkan penjajahan dari muka bumi Nusantara ini dan menyatakan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 Masehi.
Pada waktu teks Proklamasi Kemerdekaan dibuat dan dibacakan, tahun yg dicantumkan dalam teks asli Proklamasi tsb bukan mencantumkan tahun Masehi, tapi mencantumkan tahun almanak Jepang, yaitu 05. Namun dengan mengingat bahwa tahun almanak yg dianut oleh sebagian besar bangsa-bangsa di dunia adalah tahun Masehi, maka walaupun teks aslinya menyebutkan tahun Jepang, tetapi penyampaiannya ke seluruh dunia mempergunakan tahun Masehi, yaitu tahun 1945. Kata Masehi sendiri berasal dari kata Almasih Isa Putra Maryam, yaitu yg disamakan dengan Mesias atau Juruselamat.
Penggunaan tahun Masehi dimulai dan dihitung sejak Isa AS dilahirkan di dunia ini. Bangsa Indonesia mempergunakan penanggalan almanak dengan tahun Masehi ini jika ditinjau dari sudut pangdangan agama sungguh beralasan karena bangsa Indonesia adalah penganut agama tauhid yg percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bahkan salah satu ayat Al Qur'an (Surat 3 Aali Imraan ayat 45) menyebutkan bahwa Isa Putra Maryam adalah seorang yg terkemuka di dunia dan di akhirat. Terkemuka di dunia dan di akhirat bagi Isa AS berarti mempunyai kedudukan yg paling tinggi dan paling berkuasa di dunia dan akhirat. (Ingat, bahasa Indonesia ter- berarti adalah paling ).
Oleh sebab itu hampir seluruh bangsa di dunia menggunakan almanak tahun Masehi sejak bangsa-bangsa di dunia mengakui keberadaan Isa AS sampai sekarang. Demikian pula halnya dengan bangsa Indonesia yg telah mengakui dan menerima keberadaan Isa AS tsb sehingga juga menggunakan almanak tahun Masehi sejak bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Walaupun secara resmi keberadaan Isa AS diakui oleh bangsa Indonesia dengan cara menggunakan sepenuhnya penanggalan almanak tahun Masehi, tetapi mungkin masih banyak diantara mereka yg belum mengetahui secara tepat siapa sebenarnya Isa AS dari sudut pandang Islam yg terdapat di dalam kitab Al Qur'an dan Hadits Shahih yg ada antara lain Kitab Hadits Shahih Bukhari.
Untuk melengkapi penyusunan penulisan ini dan untuk mendapat kebenaran yg hakiki mengenai siapa sebenarnya Isa AS tersebut, maka kami hanya mengambil bahan-bahan dari Kitab Al Qur'an dan Kitab Hadits Shahih Bukhari dengan selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT agar Ia memberkati setiap amal perbuatan yg baik mengingat tujuan dari penulisan ini adalah untuk menjadikan pelita bagi yg belum mengenal Isa AS dari sudut pandangan Islam, walaupun setiap harinya hidup berkecimpung dengan menggunakan almanak tahun Masehi.

Semoga penulisan ini bermanfaat bagi yg membacanya dan kepada Allah SWT pulalah segala sesuatunya kami kembalikan.

Penyusun
BAB I
AL QUR'AN, KITAB SUCI AGAMA ISLAM

Kitab suci agama Islam adalah kitab Al Qur'an, yg sering disebut Al Qur'anul Karim. Isi dari Al Qur'an menguraikan masalah pokok secara garis besar dan tidak mencakup semua masalah yg timbul kemudian, karena masalah2 tsb selalu akan timbul selama ada kehidupan dan setiap masalah yg timbul sering berlainan dengan masalah sebelumnya sesuai dengan tingkat kemajuan dalam segala lapangan kehidupan. Tentu saja akan selalu ada masalah baru yg akan timbul yg belum pernah terjadi pada zaman Muhammad SAW. Maka untuk masalah baru ini, adalah tugas bagi setiap ulama Islam untuk menentukan suatu hukum yg baru dengan tetap berpegang pada Al Qur'an dan Hadits-hadits Shahih yg ada.
Pada waktu nabi Muhammad SAW masih hidup (tahun 571-632 Masehi), maka Al Qur'an masih terdiri atas ayat-ayat hafalan yg diingat oleh pengikut2 Muhammad SAW, disamping ayat2 yg berupa wahyu yg ditulis di pelbagai bahan-bahan yg tersebar di mana-mana seperti tulisan pada pelepah kurma, batu-batu, tanah liat, tulang unta, kulit kambing dan bahan-bahan lainnya yg dapat ditulis.
Setelah Muhammad SAW wafat pada tanggal 8 Juni 632 Masehi bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal tahun 12 Hijrah, maka para sahabat nabi baik dari kaum Anshar maupun dari kaum Muhajirin sepakat mengangkat Abu Bakar menjadi khalifah.
Pada awal kepemimpinan Abu Bakar banyak orang-orang yg tidak lagi patuh pada ajaran-ajaran yg disiarkan oleh Muhammad SAW bahkan sebagian lagi melepaskan diri sebagai muslim dan seolah-olah mendirikan agama baru. Dalam menghadapi situasi ini Abu Bakar bertindak tegas terhadap orang-orang yg menyeleweng tsb, sehingga terjadilah peperangan yg hebat untuk menumpas mereka dan pengikut orang-orang mengaku dirinya sebagai nabi. Diantara peperangan itu yg terkenal adalah 'Perang Jamamah'. Tentara muslim yg ikut dalam peperangan ini kebanyakan terdiri dari para sahabat nabi dan penghafal-penghafal ayat-ayat Al Qur'an. Dalam peperangan itu telah gugur sekitar 70 orang penghafal ayat Al Qur'an. Bahkan sebelum itu pada masa Muhammad SAW telah gugur sekitar 70 orang lebih dalam suatu pertempuran di sumur Ma'unah dekat kota Madinah. Dengan makin banyaknya penghafal-penghafal ayat Al Qur'an yg telah gugur dalam peperangan, maka Umar bin Khattab menjadi sangat kuatir karena penghafal ayat Al Qur'an jumlahnya makin sedikit dan yg hidup juga tinggal sedikit.
Sementara itu, kaum Muslimin yg kedudukannya terpencar-pencar memiliki naskah ayat-ayat Al Qur'an yg susunan surat-suratnya masing-masing berlainan dan susunan ayat-ayat dan surat-suratnya tidak sama. Bahkan terdapat pula perbedaan-perbedaan ejaan diantara mereka. Adanya perbedaan-perbedaan ini menimbulkan perselisihan dan perpecahan diantara kaum muslim karena masing-masing menganggap naskah miliknya yg benar.

Keadaan ini semakin membahayakan karena timbulnya pertikaian-pertikaian diantara mereka sendiri justru pada waktu mereka berada dalam pertempuran menghadapi musuh-musuh Islam. Keadaan ini disadari oleh Khalifah Utsman bin Affan (tahun 644-656 Masehi) sehingga dibentuk lagi suatu panitia yg terdiri dari Zaid bin Tsabit sebagai ketua, dan anggota lainnya adalah Abdullah bin Zubair, Za'id bin Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hasyam. Tugas panitia ini adalah menghimpun dan membukukan ayat-ayat Al Qur'an yg tersebar di mana-mana. Di dalam pelaksanaan tugas panitia ini, Khalifah Utsman bin Affan menasehatkan agar mengambil pedoman pada kaum Quraisy. Mereka dikerjakan oleh panitia sebagaimana yg ditugaskan kepada mereka dan setelah tugas itu selesai maka Al Qur'an yg telah dibukukan itu dinamai dengan Al Mushhaf yg oleh panitia dituliskan sebanyak lima buah "Al Mushhaf", empat buah diantaranya dikirim ke Mekkah, Syria, Bsrah dan Kufah agar di tempat itu disalin pula dari masing-masing Mushhaf itu, dan satu buah ditinggalkan di Madinah untuk Utsman bin Affan dan itulah yg dinamakan Mushhaf Al Iman.
Dari Mushhaf yg ditulis dari Utsman bin Affan inilah kaum muslimin di seluruh pelosok menyalin Al Qur'an ini. Demikianlah adanya setelah lebih dari lima belas tahun wafatnya Muhammad SAW barulah dapat diwujudkan kitab Al Qur'an yg menjadi pedoman bagi kaum muslimin sehingga tidak akan ada lagi timbul pertentangan-pertentangan dalam susunan ayat-ayatnya dan ejaannya. Kemudian pembagian-pembagian Al Qur'an disempurnakan lagi dan pada tahun 1337 Hijrah, atas dasar pembagian yg disempurnakan tersebut Al Qur'an dicetak oleh percetakan Amiriyah milik pemerintah Mesir di bawah pengawasan para guru besar Al Azhar. Sejak tahun tsb Al Qur'an tidak diubah-ubah lagi yaitu Al Qur'an terdiri dari 114 surat dan 6666 ayat. Untuk selanjutnya maka Al Qur'an ini merupakan pegangan bagi kehidupan pemilik agama Islam.

I.1 ARTI KATA QUR’AN
Qur’an berarti ‘bacaan’, berasal dari kata Arab ‘Qaraa’. Kata ‘Qaraa’ ini kemudian berkembang menjadi Qur’an dan dipakai untuk ‘Al Qur’an’ yg dikenal sekarang. Pengertian Al Qur’an adalah Kalam Allah SWT yg merupakan kumpulan dari seluruh wahyu yg diterima oleh Muhammad SAW.

I.2 MAKSUD DARI AL QUR’AN
Pada waktu Muhammad dilahirkan di Mekkah pada 20 April 571 Masehi, atau 12 Rabiulawal tahun Gajah, maka sebagian besar bangsa Arab masih menyembah patung-patung dan batu-batu berhala dan menyembelih hewan-hewan korban dihadapan patung-patung itu untuk dimuliakannya. Mereka pada umumnya tenggelam dalam kemusyrikan dan dalam kehidupan yg terpecah-belah serta saling bermusuhan.
Disamping adanya penyembahan patung-patung berhala, ternyata banyak pula bangsa Arab yg telah menjadi pemeluk agama Kristen atau condong ke arah agama Kristen. Pemeluk agama Kristen bukan saja terdapat di tingkat lapisan masyarakat bawah, tetapi juga terdapat di tingkat lapisan masyarakat menengah maupun atas, seperti Waraqah bin Naufal yg satu keturunan dengan Muhammad SAW.
Selain daripada itu, adapula orang-orang Arab yg telah menjadi pemeluk agama Yahudi yg sebagian besar tinggal di daerah Yastrib (Madinah) dengan kepala sukunya yg bernama Ka’ab bin Asyraf.
Walaupun diantara bangsa Arab telah ada yg memeluk agama Kristen dan Yahudi, yaitu agama yg tauhid yg percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, tapi banyak pula diantara mereka yg tetap melakukan penyembahan berhala pada patung-patung karena terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Keadaan bangsa Arab pada masa ini disebut sebagai zaman Jahiliyah.
Untuk membawa bangsa Arab keluar dari zaman Jahiliyah inilah maka Nabi Muhammad SAW terpanggil untuk memberi peringatan kepada orang-orang Arab yg melakukan penyembahan-penyembahan berhala, kepada orang-orang Arab yg sudah memeluk agama Tauhid (Kristen dan Yahudi) tetapi masih melakukan penyembahan berhala pula.
Tugas panggilan Nabi Muhammad ini tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

I.2.1 Muhammad SAW, seorang pemberi peringatan dan pembawa berita.

Surat 11 Huud ayat 12 (dikutip sebagian):
“ Sesungguhnya, engkau hanyalah seorang pemberi peringatan. Dan Allah pemelihara segala sesuatu”.

Surat 5 Al Maa’idah ayat 19 (dikutip sebagian):
“Sesungguhnya telah datang kepadamu, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan”.

Surat 7 Al Araaf ayat 63 :
“Dan apakah kamu merasa heran karena datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan supaya kamu bertaqwa dan supaya kamu mendapat rahmat.

Surat 7 Al A’raaf ayat 188 :
“ Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi kaum yg beriman”.

Surat 35 Faathir ayat 23 :
“ Engkau tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan”

Dan masih banyak ayat-ayat lainnya di dalam Al Qur’an yg menjelaskan hal ini (antara lain Surat 10 Yunus ayat2, Surat 33 Al Ahzaab ayat 45, Surat 67 Al Mulk ayat 26, dll ).

I.2.2 Tugas Muhammad SAW ialah menyampaikan risalah.

Surat 13 Ar Rad, du ayat 40 :
“ Dan jika Kami tunjukkan kepada engkau sebagian dari yang Kami janjikan kepada mereka, atau Kami matikan engkau, maka hanya sesungguhnya kewajibanmu menyampaikan, dan kewajiban Kami menghitungnya”.

Surat 42 Asy Syu’araa ayat 48 (dikutip sebagian):
“ Tidak ada kewajiban atas engkau melainkan menyampaikan (Risalah)”.




Dari kedua pokok penjelasan di atas, jelas bahwa Muhammad SAW terpanggil untuk memberi peringatan kepada orang-orang Arab agar mereka tidak menyembah berhala kecuali hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya Allah SWT yg harus disembah dan dianggap sebagai penolong dan pelindung bagi orang-orang saleh sebagaimana tertulis di dalam kita Taurat dan Injil yg telah dimiliki oleh sebagian orang-orang Arab yg memeluk agama Tauhid (Kristen dan Yahudi) tetapi tidak bisa meninggalkan kebiasaan lamanya untuk menyembah berhala. Hal ini tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an yg menjadi saksi atas Alkitab (Taurat dan Injil).

I.2.3 Al Qur’an membenarkan berlakunya Taurat dan Injil.

Surat 3 Aali Imraan ayat 81 :
Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian para Nabi, “Sesungguhnya apa saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah, kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang membenarkan apa-apa yang ada pada kamu (Taurat dan Injil), (hendaknya) kamu sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”.

Surat 4 An Nisaa ayat 136:
“Hai orang-orang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan (beriman kepada) Kitab (Injil) yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan Kitab (Taurat) yang diturunkan sebelumnya. Dan barangsiapa yang ingkar kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yg jauh.

Surat 46 Al Ahqaaf ayat 30:
Mereka berkata “Hai kaum kami”. Sesungguhnya kami telah mendengar (Injil) yang diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab sebelumnya (Taurat), yang memberikan petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

I.2.4 Al Qur’an membenarkan dan menjadi saksi atas Alkitab.

Surat 5 Al Maa’idah ayat 48 (dikutip sebagian):
Dan Kami telah menurunkan kitab dengan kebenaran apa yang sebelumnya dari Alkitab dan menjadi kesaksian atasnya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa Al Qur’an diturunkan untuk memberi kabar gembira dan peringatan kepada semua orang agar kembali kepada jalan Allah yang tauhid, dengan mempelajari isi dari Alkitab (Taurat dan Injil) tersebut.
Dengan demikian, adalah kewajiban bagi setiap muslim dan semua orang yang beriman kepada Allah untuk membaca dan mempelajari Alkitab (Taurat dan Injil), agar supaya mereka tidak menjadi ingkar kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, dan akhirnya menjadi sesat dengan kesesatan yg jauh

I.3 AL QUR’AN ADALAH BAGIAN DARI ALKITAB
Di dalam Al Qur’an banyak dikemukakan mengenai nabi-nabi dimulai dengan nabi pertama, yaitu nabi Adam, dan Siti Hawa sampai kepada nabi-nabi penting lainnya seperti nabi Nuh AS, nabi Isa AS, dan banyak lagi nabi-nabi lainnya.
Mengapa kisah Nabi-nabi yg disebut di dalam Al Qur’an disebutkan kembali padahal kisah-kisah tersebut juga telah disebutkan sebelumnya di dalam Alkitab ???
Jawabannya adalah dikarenakan bahwa Al Qur’an adalah bagian dari Alkitab, seperti tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

I.3.1 Al Qur’an adalah bagian dari Alkitab yang berada dalam induk Alkitab yang memberi penjelasan.

Surat 43 Az Zukhruf ayat 4 :
Dan sesungguhnya Al Qur’an dalam induk Alkitab yang disisi Kami adalah tinggi dan penuh hikmat.

Surat 26 Asy Syu’ahaa ayat 196 :
Dan sesungguhnya Al Qur’an tersebut di dalam kitab-kitab yang terdahulu (Taurat, Injil).

Surat 28 Al Qashash ayat 2 :
Inilah ayat-ayat Alkitab yang terang.

Karena Al Qur’an berada di dalam Alkitab yang merupakan bagian dari Alkitab, maka orang-orang yang ingin mempelajari dan memahami Al Qur’an dengan benar harus membaca dan memahami Alkitab, agar diperoleh pengetahuan dari ayat-ayat Al Qur’an dengan pengertian yang benar.
Dengan demikian, orang-orang yang ingin memahami kebenaran ayat-ayat Al Qur’an tersebut dengan membaca Alkitab termasuk orang-orang yang mengikuti petunjuk dan orang-orang tersebut tidak termasuk orang-orang yang sesat dan merugi sebagaimana tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an sebagai berikut :

Surat 4 An Nisaa ayat 136 :
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya, dan kitab Injil yang diturunkan kepada Rasulnya, dan kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya. Dan barangsiapa yang ingkar kepada Allah, malaikat-malaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-rasulNya,, dan hari kemudian, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh.

Surat 2 Al Baqarah ayat 121 :
Orang-orang yang telah Kami berikan Alkitab kepadanya, mereka membaca dengan bacaan yang sebenarnya mereka beriman kepadaNya. Dan barangsiapa yang mengingkarinya maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

\

Bahkan di dalam surat Al Maa-idah dinyatakan lebih tegas lagi bahwa jika kita tidak menurut Taurat dan Injil, maka tidak dipandang beragama.

Surat. 5 Al Maa-idah ayat 68
"Katakanlah: "Hai ahli kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu."
(Qul yaa ahlal kitaabi lastum 'alaa syai-in hattaa tukimut tauraata wal injiila wa ma unzila ilaikum mir rabbkum.)


































BAB II
ISA AS DI DALAM AL QUR'AN

Di dalam Al Qur’an, Isa AS ditempatkan pada kedudukan yang khusus, terhormat, dan agung, yang berbeda dengan kedudukan nabi-nabi lainnya. Disebutkan pula di dalam Al Qur’an bahwa Isa AS dilahirkan ke bumi bukan dari hasil perkawinan biologis diantara Maryam dengan seorang laki-laki, tetapi dilahirkan ke bumi dari Ruh Allah SWT sendiri, yang ditiupkan ke dalam rahim badan Maryam, seperti yang tertulis di dalam Al Qur’an sbb :

Surat 21 Al Anbiyaa ayat 21 :
Dan (ingatlah berita Maryam) yang memelihara kehormatan, maka Kami tiupkan kepadanya dari ruh Kami, dan Kami jadikan dia bersama putranya sebagai bukti (kekuasaan Allah) bagi semesta alam.

Surat 66 At Tahrim ayat 12 :
Dan Maryam putri Imran, yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan kedalam rahimnya sebagian daripada Ruh Kami, dan ia telah membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.

Dari ayat-ayat di atas, berarti bahwa Isa AS bukanlah anak duniawi dari hasil perkawinan biologis antara maryam dengan seorang laki-laki, akan tetapi Isa AS adalah anak rohani yang dilahirkan dari Ruh Allah SWT sendiri. Seperti kita ketahui bersama bahwa semua manusia adalah terdiri dari tubuh jasmani dan rohani, tetapi Allah SWT adalah Allah rohani yang berupa Ruh.
Jika kemudian Isa AS lahir, maka dapat dipastikan bahwa ibu dari Isa AS adalah Maryam. Tetapi yang perlu diketahui kemudian adalah, “SIAPAKAH BAPA DARI ISA AS ???? “ Dengan sendirinya sesuai dengan penjelasan dari Al Qur’an, maka Bapa dari Isa AS adalah Allah SWT sendiri, yang telah meniupkan Ruh-Nya sendiri ke dalam rahim Maryam.
Kemudian timbul pertanyaan, bukankah hal ini bertentangan dengan ayat Al Qur’an yang menyatakan bahwa “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan ???? seperti dikutip di bawah ini :

Surat 112 Al Ikhlash ayat 3 :
Dia tidak beranak dan tidak (pula) diperanakkan.

Ayat tersebut jelas menunjukkan bahwa secara biologis Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Kelahiran Isa AS seperti dikutip pada Surat 21 Al Anbiyaa ayat 21 di atas adalah sebagai “BUKTI KEKUASAAN ALLAH” bagi semesta alam.

Surat 21 Al Anbiyaa ayat 21 :
Dan (ingatlah berita Maryam) yang memelihara kehormatan, maka Kami tiupkan kepadanya dari ruh Kami, dan Kami jadikan dia bersama putranya sebagai bukti (kekuasaan Allah) bagi semesta alam.
Hal ini lebih diperjelas lagi dengan ayat Al Qur’an berikut yang menjelaskan adanya kemungkinan bahwa Allah dapat mempunyai anak tanpa ada hubungan biologis sbb :

Surat 39 Az Zumar ayat 4 :
Sekiranya Allah hendak mengambil anak, niscaya Dia memilih diantara apa yang Dia ciptakan mana yang Dia kehendaki, Mahasuci Dia, Dialah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.

Dari ayat ini dapat diketahui bahwa jika Allah mengambil anak, maka caranya tidak sama dengan cara manusia memperoleh anak, yaitu secara biologis. Allah dapat mengambil anak dengan cara-Nya sendiri sesuai dengan keberadaanNya sebagai Allah semesta alam, dan Allah telah melakukannya dengan cara meniupkan Ruh-Nya ke dalam rahim Maryam, di dalam Isa AS.
Jadi dalam hal ini, Allah dapat berbuat apa saja yang Dia kehendaki karena Dia adalah Allah Maha segalanya, Allah semesta alam, yang tindakannya tidak akan mungkin dapat dimengerti oleh manusia sebagai ciptaanNya, sebagaimana tertuang di dalam Al Qur’an sbb :

Surat 6 Al An Aam ayat 102 :
Itulah Allah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia dan Dialah pemelihara segala sesuatu.

Surat 59 Al Hasyr ayat 23 :
Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Penguasa, Maha Suci, Maha Sejahtera, Maha Pemberi Keamanan, Maha Memelihara, Maha Perkasa, Maha Kuasa, yang memiliki segala keagungan, Maha Suci Allah daripada apa yang mereka persekutukan.

Setelah memahami ayat-ayat Al Qur’an tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ayah dari Isa AS adalah Allah SWT sendiri yang telah memberikan Ruh-Nya ke dalam rahim Maryam. Seperti kita ketahui bahwa Allah SWT itu adalah berbentuk Ruh, dan jika Ruh Allah menjelma menjadi manusia di dalam Isa AS, maka dapat dikatakan bahwa Allah SWT sendiri yang menjelma menjadi manusia. Sebutan Allah dan Anak Allah adalah untuk menggambarkan hubungan antara Isa AS sebagai manusia dengan Allah SWT sebagai Allah Ruh.











II.1 ISA AS ADALAH PERTANDA BAGI MANUSIA
Keberadaan Isa AS di dunia dalam pandangan Islam yang dituangkan dalam Al Qur’an ialah bahwa Allah ingin menunjukkan kepada ummat manusia bahwa Isa AS adalah pusat perhatian dan pusat panutan dengan mendapat rahmat dari Allah yang menjadi pertanda bagi manusia sebagaimana dituangkan dalam ayat-ayat berikut ini :

Surat 19 Maryam ayat 21 :
(Jibril) berkata “ Demikianlah Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagiKu”, Kami hendak menjadikanNya (Isa AS) sebagai tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan adalah urusan itu telah ditetapkan.


II.2 ISA AS MEMPUNYAI KEDUDUKAN YANG PALING TINGGI
Di dalam Al Qur’an, Isa AS tidak saja ditempatkan pada kedudukan khusus dan terhormat, tetapi juga secara tegas dijelaskan bahwa Isa AS, adalah orang yang dekat dengan Allah, dan seorang yg terkemuka di seluruh dunia dan di akhirat.

Surat 3 Ali Imran ayat 45 :
Ketika malaikat berkata : “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan Kalimah dari padaNya, namanya Almasih Putra Maryam, terkemuka di dunia dan di akhirat dan adalah orang yang paling dekat dengan Allah.
(Idz qalatil malaikatu yaa Maryama innallaaha yubasyiruki bi kalimatim minhus muhul masihu ‘isabnu Maryama wajihan fiddun-yaa wal akhirati wa minal muqarrabiin)

Orang yang terkemuka di dunia artinya adalah orang yang paling tinggi kedudukannya di dunia, dapat pula disamakan dengan pemimpin seluruh dunia atau raja dunia. (Bandingkan dengan kata orang terkaya di dunia, maka ia adalah orang yang paling kaya di dunia !!!). Isa AS tidak saja terkemuka di dunia, tetapi juga terkemuka di akhirat atau yang paling tinggi kedudukannya di akhirat.
Selain itu juga Isa adalah orang yang paling dekat dengan Allah, karena Isa AS tidak lain dan tidak bukan adalah Allah sendiri melalui RuhNya yang menjelma menjadi manusia.
Menurut yg diketahui Al Qur’an, akhirat adalah sesuatu gaib dan tidak dapat ditangkap oleh panca indra. Yang dimaksud dengan akhirat di sini adalah kehidupan sesudah kehidupan dunia berakhir. Untuk urusan akhirat hanya Allah SWT yg mengetahui dan hanya Allah SWT yang menguasainya. Tidak ada yang lain sebagai penguasa dunia dan akhirat ini selain daripada Allah SWT sendiri.
Dengan menyatakan bahwa Isa AS adalah terkemuka di dunia dan akhirat, jelas sekali terlihat bahwa Al Qur’an menempatkan kedudukan Isa AS sangat istimewa, bersamaan dengan keberadaan Allah SWT sebagai penguasa dunia dan akhirat.
Apakah dengan demikian Allah membagi kekuasaannya dengan Isa AS. Jawabannya sekali-kali tidak. Sebab Allah SWT sebagai Allah yang berkuasa, yang adalah Allah yang berbentuk Ruh, dan Isa AS itu adalah Ruh Allah SWT sendiri.

Jadi tidak ada pembagian kekuasaan Allah di dunia dan akhirat, Hanya ada SATU ALLAH YANG MAHA ESA di dunia dan akhirat ini. Jadi Isa AS adalah Allah SWT sendiri yang menjelma menjadi manusia, seperti dijelaskan dalam ayat Al Qur’an berikut ini :

Surat 19 Maryam ayat 17 :
...Kami mengutus Roh Kami kepadanya, maka Ia menjelma dihadapanNYA menjadi manusia yang sempurna."
(...arsalnaa ilaihaa ruuhanaa fa tamatstsala lahaa basyaran sawiyya.)


II.3 ISA AS ADALAH MUSLIM / ISLAM.
Semua agama yang dibawa oleh nabi-nabi atau rasul-rasul terdahulu adalah agama tauhid, yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan yang Maha Esa. Sebutan atau istilah yang diberikan kepada pemeluk agama tauhid ini adalah Muslim atau Islam.
Demikian pula halnya dengan agama yg dibawakan oleh nabi Ibrahim AS, nabi Musa AS, nabi Isa AS, nabi Muhammad SAW dan nabi-nabi lainnya adalah agama Islam. Istilah Muslim atau Islam atau Aslim berarti penyerahan sepenuhnya kepada Allah SWT sebagai mana yang tertuang di dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

Surat 2 Al Baqarah ayat 128 (dikutip sebagian):
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua ini (Ibrahim dan Ismail) seorang Muslim kepadaMu, dan diantara anak cucu kami umat yang Muslim kepadaMu.

Surat 2 Al Baqarah ayat 131 :
(Ingatlah) ketika Tuhannya berfirman kepadanya “Islamlah”. Ibrahim menjawab “Saya telah Islam kepada Tuhan semesta alam”.

Surat 27 An Naml ayat 91 :
Sesungguhnya aku hanya diperintahkan menyembah Tuhan (yang mempunyai ) negeri ini yang Dia telah mensucikan dan kepunyaanNyalah segala sesuatu. Dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Muslim).












II.4 ISA AS DIBEDAKAN DARI NABI-NABI LAINNYA.

II.4.1 Hanya Isa AS yang lahir atas firman Allah

Nabi-nabi lainnya dilahirkan ke dunia dari hasil perkawinan biologis antara ayah dan ibunya yang melahirkannya ke dunia. Sedangkan Isa AS adalah satu-satunya nabi yang dilahirkan atas Kalimah / Firman Allah yang disampaikan kepada Maryam dengan Ruh Allah SWT sendiri.

Surat 4 An Nisaa ayat 171 :
Hanya sesungguhnya Almasih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah, dan dengan KalimahNya yang disampaikan kepada Maryam, dan Ruh daripadaNya.
(Inamal Masihu 'isabnu Maryama rasulullahi wa kalimatuhu)

Hadits Anas bin Malik hal 72 :
Isa As. adalah Roh Allah dan kalimatNya.
(Isa faa innahu Rohullah wa kalimatuhu)

Kelahiran nabi lainnya dianggap sebagai kelahiran manusia biasa pada umumnya. Kelahiran Isa AS kejadiannya diperumpamakan sama dengan kejadian nabi Adam AS. Hal ini disebabkan karena kedua-duanya dilahirkan bukan dari hasil perkawinan biologis antara laki-laki dan perempuan.
Isa AS lahir sebagai anak rohani yang merupakan Ruh Allah SWT sendiri, sedangkan nabi Adam AS diciptakan oleh Allah SWT dari tanah menjadi manusia pertama di dunia. Hal ini dapat dilihat pada ayat Al Qur’an berikut ini :

Surat 3 Aali Imran ayat 59 :
Sesungguhnya perbandingan (kejadian) Isa di sisi Allah adalah seperti (kejadian) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya “Jadilah”, maka jadilah dia.

II.4.2 Hanya Isa AS yang langsung berfirman.
Nabi-nabi lainnya menerima wahyu dari malaikat setelah mereka dewasa, melalui malaikat Jibril. Sedangkan Isa AS tidak menerima wahyu, tetapi Isa AS langsung berbicara mengucapkan perintah / firman Allah sejak dari bayi, sebagaimana tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

Surat 19 Maryam ayat 29-32 :
Maka Maryam mengisyaratkan kepada anaknya. Mereka berkata “Bagaimana kami berbicara dengan bayi yang masih dalam buaian ?? (Bayi) berkata “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Allah memberiku Kitab dan dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada. Dan dia memerintahkan aku salat dan zakat selama aku hidup dan berbuat baik kepada ibuku dan dia tidak akan menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”.
Surat 5 Al Maa’idah ayat 110 :
(Ingatlah) ketika Allah berfirman “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmatKu kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkan engkau dengan Ruhul Kudus, engkau dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa, dan ingat pula ketika Aku mengajar engkau Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.


II.4.3 Hanya Isa AS yang diperkuat dengan Ruhul Kudus.

Surat 2 Al Baqarah ayat 87 :
Dan sungguh Kami telah mendatangkan Alkitab (Taurat) pada Musa dan Kami susulkan sesudahnya dengan rasul-rasul dan Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjijat) kepada Isa putra Maryam, dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Kudus.

Surat 2 Al Baqarah ayat 253 :
Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari yang lain diantara mereka ada yang Allah berkata-kata (kepadaNya) dan dia ditinggikan derajat sebagian daripada mereka. Dan Kami berikan Isa putra Maryam beberapa keterangan (mukjizat) serta Kami perkuat dengan Ruhul Kudus.

II.4.4 Hanya Isa AS yang dapat menciptakan makluk hidup dan menghidupkan orang mati.

Nabi-nabi lainnya diberkati mukjizat ala khadarnya oleh Allah SWT, tetapi Isa AS diberikati mukjizat secara luar biasa yang tidak dimiliki oleh nabi-nabi lainnya, misalnya menyembuhkan orang sakit, memelekkan orang buta, menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal, dan bahkan menciptakan makluk hidup.


Surat 3 Aali Imraan ayat 49 :
Sesungguhnya aku (Isa AS) datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu bahwa aku membuat untukmu dari tanah berbentuk burung, lalu aku meniupnya maka ia menjadi burung dengan izin Allah, dan aku menyembuhkan orang yang buta dan berpenyakit lepra, dan aku menghidupkan orang mati, dengan izin Allah dan aku mengabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumah-rumah kamu.

Surat 5 Al Maa’idah ayat 110 :
Dan (ingat pula) ketika engkau (Isa AS) membuat bentuk burung dari tanah dengan izinKu, kemudian engkau meniup kepadanya, lalu dia menjadi burung dengan izinKu, dan engkau sembuhkan orang-orang buta dan orang-orang berpenyakit lepra dengan izinKu, dan di waktu engkau mengeluarkan orang mati (menjadi hidup) dengan izinKu.

II.4.5 Hanya Isa AS yang dibangkitkan kembali dan diangkat ke dalam diri Allah.
Nabi-nabi yang lain setelah wafat dikuburkan dan sebagian besar makam kuburan dari nabi-nabi tersebut masih ada. Sedangkan Isa AS setelah wafat dibangkitkan kembali dan langsung diangkat ke dalam diri Allah. Oleh sebab itu Isa AS adalah satu-satunya nabi yang tidak mempunyai kuburan karena dia langsung berada di dalam diri Allah sebagaimana tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

Surat 19 Maryam ayat 33 :
Dan keselamatan atasKU pada hari AKU dilahirkan dan pada hari AKU mati dan pada hari AKU dibangkitkan hidup kembali.

Surat 4 An Nisaa ayat 158 :
Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan Allah adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Surat 3 Aali Imraan ayat 55 :
(Ingatlah) tatkala Allah berfirman : “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mematikanMu, dan mengangkatMu kepadaKU, dan akan mensucikanMu dari orang-orang yang kafir.


II.5 ALLAH SWT DAN ISA AS YANG MENJADI SAKSI PADA HARI KIAMAT
Hanya Allah SWT dan Isa AS yang dapat menyelamatkan manusia pada waktu hari kiamat. Di dalam hal ini Isa AS dalam Al Qur’an ditempatkan pada kedudukan yang sama dengan Allah SWT, karena hanya Allah SWT dan Isa AS yang dapat menjadi saksi pada hari kiamat.
Dengan demikian, semua orang yang ingin selamat harus bertaqwa kepada Allah dan taat kepada Isa AS, karena pada hari kiamat hanya mereka berdualah yang menjadi saksi atas diri semua orang.

Sebagaimana tertulis dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

Surat 22 Al Hajj ayat 17 :
Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabiin, Nasrani, Majusi, dan orang-orang yang mempersekutukan Allah, sesungguhnya allah akan memberi keputusan antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.


Surat 43 Az Zukhruf ayat 61 :
Dan sesungguhnya dia (Isa) adalah suatu tanda bagi khiamat, maka janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu, dan ikutilah AKU, inilah JALAN YANG LURUS.
(Wa innahu la’ilmul lis saa’ati fa laa tamtarunna bihaas wa tabi’uuni haadzaa shiraathum mustaqiim)

Surat 43 Az Zukhruf ayat 63 :
Dan ketika Isa datang membawa keterangan-keterangan, Dia berkata “ Sungguh AKU datang kepada kamu dengan hikmah dan supaya AKU terangkan kepada kamu sebagian dari apa yang kamu perselisihkan kepadaNYA”. Maka taqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaKU.

Surat 4 An Nisaa ayat 159 :
Dan tidak seorangpun dari Ahli Kitab melainkan akan beriman kepada Isa sebelum matiNYA, dan pada hari kiamat DIA menjadi saksi terhadap mereka.





































BAB III
ISA AS DI DALAM KITAB HADITS
SHAHIH BUKHARI

Sebagaimana yang tertuang di dalam kitab Al Qur’an, maka di dalam kitab-kitab Hadits Shahih pun Isa AS ditempatkan pada kedudukan yang khusus yang menakjubkan. Antara lain di dalam kitab Hadits Shahih Bukhari. Isa AS, kedudukannya tidak disamakan dengan nabi-nabi lainnya, karena Isa AS adalah nabi yang paling kudus yg sama sekali tidak sama dengan manusia lainnya.
Kedudukan Isa AS yg sedemikian kudus tidak dapat dimiliki oleh siapapun di alam semesta ini kecuali oleh Allah SWT sendiri, bahkan dikatakan di dalam Al Qur’an bahwa Isa tidak dapat disentuh oleh setan atau iblis sekalipun.
Bahkan nabi besar Muhammad SAW pun menyatakan diri bahwa beliau adalah orang yang paling dekat dengan Isa AS, bahkan menganut agama yang sama dengan Isa AS.


III.1 ISA AS ADALAH ORANG YANG PALING KUDUS (SUCI) & LANGSUNG MASUK SURGA

Menurut Muhammad SAW, di dalam hadits Shahih Bukhari Nomor 1493, bahwa semua orang itu sejak lahirnya disentuh oleh setan (TELAH BERDOSA), kecuali Isa AS.
Sebagaimana dimaklumi bahwa setan / iblis selalu erat hubungannya dengan dosa manusia, dan hadits ini ingin mengemukakan bahwa semua orang telah berdosa, kecuali Isa AS. Hadits ini menggambarkan bahwa Isa AS adalah makluk paling kudus dan yang kesucianNya murni dan terkudus dari antara manusia. KesucianNya yang semurni ini hanya dapat dimiliki oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, baik Allah SWT maupun Isa AS tidak bisa disentuh oleh setan ataupun iblis.
Sedangkan terhadap manusia lainnya tanpa terkecuali, apakah ia seorang manusia biasa atau seorang nabi sekalipun, maka setan dapat menyentuhnya. Hal ini dapat kita lihat dalam hadits Shahih Bukhari Nomor 1493 sebagai berikut :

“Dari Abu Hurairah RA. Katanya “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak Adam yang baru lahir, disentuh oleh setan ketika lahirnya, lalu ia memekik menangis karenanya, selain Maryam dan anaknya.

Sedemikian sucinya Isa AS sehingga Al Qur’an menyatakan dengan jelas bahwa hanya Isa AS yg langsung masuk surga.

Surat 19 Maryam 19 :
"Hanya Isa anak Maryam yang langsung masuk surga karena Dia suci"

Bahkan Nabi besar Muhammad SAW pun sebelum wafatnya memintakan kepada seluruh umat Islam agar membacakan doa ‘shalawat nabi’ pada setiap kali selesai melaksanakan sholat untuk mendoakan keselamatan kepada diri nabi Muhammad SAW sendiri, agar tidak disentuh dan ditarik oleh setan ke dalam neraka dalam kehidupan akhiratnya kelak.
Bunyi Shalawat Nabi tsb adalah :
“Ya – Allah, karuniakanlah kepada junjungan kami Nabi Muhammad keselamatan, kemuliaan, dan tempat serta derajat yang tinggi seperti yang telah Engkau janjikan “.

Tampak dari bunyi Shalawat Nabi ini bahwa nabi Muhammad sendiripun tidak yakin akan dapat dan mampu menerima keselamatan, kemuliaan, dan tempat dan derajat kenabian yang akan diterimanya sebagai nabi, sehingga ia meminta kepada umatnya untuk selalu mendoakannya setiap habis melaksanakan sholat 5 waktu setiap hari agar Allah tidak lupa untuk menepati janjiNya.
Dalam hal ini, jelas sekali menunjukkan ketidakpercayaan Nabi Muhammad kepada Allah SWT akan keselamatan dirinya di akhirat kelak, apakah beliau nanti masuk surga atau neraka, sehingga Beliau sangat menekankan kepada seluruh umat Islam di dunia untuk senantiasa mendoakannya lima kali sehari untuk masa waktu yang tidak terbatas (selama sholat masih didirikan ?? )
Hal ini dapat dilihat pula di dalam Doa Nabi Muhammad SAW. sebelum beliau wafat:

Hadits Shahih Bukhari 1573 :
"Wahai Tuhan! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkanlah dengan Teman Yang Maha Tinggi"

Hadits Shahih Bukhari 1574
Lalu beliau mengangkat tangannya sambil mengucapkan: "Teman Yang Maha Tinggi" Lalu beliau wafat dan rebahlah tangan beliau.


Siapakah "Teman Yang Maha Tinggi" itu?
Menurut catatan kaki Hadits Shahih Bukhari ialah "Malaikat dan nabi-nabi". Malaikat tidak disebut yang Maha Tinggi, jadi "teman" beliau bukan malaikat tetapi nabi-nabi. Lalu siapakah diantara para nabi yang layak disebut: "Yang Maha Tinggi".

Adapun nama-nama yang telah diberikan Allah kepada Nabi-nabi lain yaitu:
"Adam Shafiyulah" = Adam disucikan Allah
"Nuh najiyullah" = Nuh diselamatkan Allah
"Ibrahim khalilullah" = Ibrohim dikasihi Allah
"Isma'il dzabiihullah" = Ismail dikurbankan Allah
"Musa kaliimullah" = Musa difirmankan Allah
"Dawud khalifatullah" = Dawud dipimpin Allah

Namun beliau telah bersabda:

Hadits Shahih Bukhari 1501
"Saya yang lebih dekat Isa anak Maryam di dunia dan di akhirat. Semua nabi itu bersaudara karena seketurunan. Ibunya berlainan sedang agamanya satu."
(Anaa aulan naasi bi 'iisabni maryama fid dun-yaa al aakhiraati wal anbiyaau ikhwaatul li 'allaatin ummahaatuhum syattaa wa diinuhum waahid)
Hadits Shahih Muslim 127
"Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, sesungguhnya telah dekat masanya 'Isa anak Maryam akan turun di tengah-tengah kamu. Dia akan menjadi hakim yang adil.
(Wa ladzii nafsii bi yadihi layusyikanna ayyanzila fii kumubnu maryama hakaman muqsithan)

Maka "Teman Yang Maha Tinggi" itu adalah Isa Almasih anak Maryam.


Dan kita disarankan untuk mengikut Dia bila ingin memperoleh keselamatan itu, karena hidup kita semua berada di tanganNya.

Surat 43 Az Zukhruf ayat 61
"...ikutilah Aku, inilah jalan yang lurus."
(..wattabi'uuni haadzaa shiraathum mustaqiim.)


III.2 ISA AS ADALAH RUH ALLAH DAN FIRMAN/KALIMAHNYA
Menurut Muhammad SAW, di dalam hadits Shahih Bukhari Nomor 1496, Isa AS adalah penjelmaan makluk Allah di bumi ini. Bahwa Allah turun menjadi manusia melalui diri Isa AS.

“Siapa yang mengaku bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, esa dan tiada bersekutu, Muhammad hambaNya dan rasulNya, Isa hamba Allah, rasulNya dan kalimahNya (MakhlukNya) (Yaitu Isa AS), yang disampaikan kepada Maryam dan Ruh daripadaNya dan bahwa surga dan neraka itu sebenarnya, maka orang-orang itu akan dimasukkan Tuhan ke dalam surga menurut amalnya.


III.3 ISA AS ADALAH HAKIM YANG ADIL PADA AKHIR ZAMAN
Menurut Muhammad SAW, di dalam hadits Shahih Bukhari Nomor 1090, Isa AS adalah hakim pada akhir zaman yang akan datang. Bahwa Isa AS akan mengadili semua umat manusia, tidak terkecuali diri Nabi Muhammad sendiri :

“Demi Allah yang diriku dalam genggamanNya ! Sesungguhnya akan turun kepadamu Ibnu Maryam menjadi hakim yang adil.

Hadits Ibnu Majah
“Tidak ada Imam Mahdi selain Isa putra Maryam."
(Laa mahdia illa isabnu Maryama)

Hadits ini mengungkapkan bahwa pada akhir zaman atau pada hari kiamat, Isa AS akan menjadi hakim yang akan menghakimi seluruh umat manusia.


III.4 MUHAMMAD SAW PALING DEKAT DAN SATU KETURUNAN DENGAN ISA AS

Dalam hadits ini begitu penting dan tingginya kedudukan Isa AS sampai-sampai nabi Muhammad SAW sendiri perlu menyatakan dirinya adalah orang yang dekat sekali bahkan paling dekat dengan Isa AS, dan satu keturunan dengan Isa AS, dan juga memeluk agama yang sama.
Hal ini dapat dilihat pada Hadits Shahih Bukhari No 1500 :

Saya mendengar rasululah bersabda “Sayalah orang yang paling dekat kepada anak Maryam (Isa). Semua nabi-nabi itu seketurunan. Tiada seorangpun nabi dalam masa antara saya dengan Dia”.

Hadits Shahih Bukhari No 1501 :

Rasululah SAW bersabda “Saya lebih dekat dengan Isa anak Maryam di dunia dan akhirat. Semua nabi-nabi itu bersaudara karena seketurunan. Ibunya berlainan sedangkan agamanya satu.




























BAB IV
PENGIKUT ISA AS

Telah kita bahwa kedudukan Isa AS sangat tinggi martabatnya sebagaimana dituangkan dalam kitab Al Qur’an. Selain itu, dapat pula kita lihat dari Al Qur’an bahwa pengikut-pengikut Isa AS, ayng disebut orang-orang Nasrani (Kristen) juga mempunyai kedudukan yang khusus yang berbeda dengan ummat manusia lainnya. Hal ini dapat dilihat dari ayat-ayat Al Qur’an sbb :


IV.1 UMAT NASRANI (KRISTEN) LANGSUNG MASUK SURGA
Menurut ajaran agama Islam yg berdasarkan Al Qur’an, maka setiap orang yang mati akan masuk neraka terlebih dahulu dan kemudian Allah akan menyelamatkan orang yang tidak berdosa untuk dipindahkan ke surga, sedangkan orang-orang yang berdosa tetap tinggal di neraka untuk selama-lamanya.

Surat Maryam ayat 71-72 :
Dan tidak ada seorangpun dari padamu melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.

Hal tersebut di atas ternyata tidak berlaku bagi orang-orang Nasrani (yang juga sering disebut ahli kitab), karena menurut Al Qur’an, dosa-dosa mereka sudah dihapus sehingga jika mereka mati maka mereka akan langsung masuk surga. Pengikut Isa AS ternyata mendapatkan suatu jalan langsung masuk ke surga seperti halnya Isa AS sendiri.

Surat 5 Al Maa’idah ayat 65 :
Dan sekiranya Ahli Kitab itu beriman dan bertaqwa, tentulah Kami tutup (hapuskan) kejahatan-kejahatan mereka dan tentulah Kami masukkan ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.


IV.2 PENGIKUT ISA AS BERADA DI ATAS UMAT MANUSIA LAINNYA

Karena Allah SWT mensucikan Isa AS dari orang-orang kafir, maka pengikut Isa AS juga diberi tempat yang lebih tinggi di atas umat manusia lainnya, terutama di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat.

Surat 3 Aali Imraan ayat 55 :
Ingatlah tatkala Allah berfirman “Hai Isa, sesungguhnya AKU akan mematikanMU, dan mengangkatMU kepadaKU, dan akan mensucikanMU dari orang-orang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikutiMU di atas mereka yang kafir hingga hari kiamat.


IV.3 UMAT NASRANI (KRISTEN) AKAN MENERIMA PAHALA DAN SELALU
BERSUKACITA

Allah SWT menempatkan kedudukan umat Kristen yg beriman pada kedudukan yang lebih tinggi di atas orang-orang kafir dan memperoleh pahala serta bersukacita, sebagaimana dituangkan dalam ayat-ayat Al Qur’an :

Surat 2 Al Baqarah ayat 62 :
Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, barangsiapa yang beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada ketakutan bagi mereka, dan tidak (pula) mereka berduka cita.

Surat 3 Aali Imraan ayat 199 :
Dan sesungguhnya diantara orang-orang ahli kitab ada yang beriman kepada Allah, dan apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang telah diturunkan kepada mereka, sedang mereka merendah diri kepada Allah, mereka tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungannya.

Surat 5 Al Maa’idah ayat 69 :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabiin, dan orang-orang Nasrani, barangsiapa beriman kepada Allah, kepada hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Surat 4 An Nisaa ayat 162 :
Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelumnya (Taurat dan Injil), dan orang-orang yang mendirikan salat, menunaikan zakat dan beriman kepada Allah dan hari kemudian, akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.














IV.4 UMAT KRISTEN YANG PALING DEKAT DAN PALING MENGASIHI UMAT ISLAM

Pada waktu Muhammad SAW masih hidup, maka Allah SWT memerintahkan kepada Muhammad SAW agar jika Muhammad ragu-ragu terhadap wahyu yang diturunkan kepadanya, maka Muhammad SAW harus bertanya kepada orang-orang Kristen (yang juga sering disebut Ahli Kitab) sebagaimana dituangkan dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

Surat 10 Yuunus ayat 94 :
Maka jika engkau (Muhammad) dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum engkau (Taurat dan Injil). Sungguh telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu-ragu.

Dari ayat-ayat di atas jelas bahwa Allah SWT berkehendak agar Muhammad SAW menghilangkan keragu-raguannya dengan cara menghubungi orang Kristen (yang juga sering disebut Ahli Kitab) untuk menanyakan jawaban atas keragu-raguannya.. Bahkan di surat Assajdah berikut ini, Allah SWT sendiri menganjurkan agar Muhammad menemui dan membaca Alkitab (Taurat) sendiri agar tidak ragu-ragu lagi akan kebenarannya :

Surat 32 Assajdah ayat 23 :
Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat), maka janganlah engkau di dalam keraguan menemuinya, dan Kami menjadikan (Taurat) sebagai petunjuk bagi bani Israel.

Oleh sebab itu Muhammad SAW melarang untuk membantah terhadap orang-orang Kristen (yang juga sering disebut Ahli Kitab) karena Tuhan dari Muhammad SAW dan Tuhannya orang-orang Kristen adalah Tuhan yang sama sebagaimana tertuang dalam :

Surat 29 Al Ankabut ayat 46 :
Dan janganlah kamu berbantah dengan Ahli Kitab, melainkan dengan yang lebih baik, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka dan katakanlah “Kami telah beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami (Al Qur’an) dan apa yang diturunkan kepada kamu (Taurat dan Injil). Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu dan kepadaNya kamu berserah diri.









Selain daripada ayat-ayat tsb dapat pula dilihat bahwa Allah SWT menghendaki hubungan yang erat dan saling mengasihi antara umat Islam dan Kristen sebagaimana tertuang di dalam :

Surat 5 Al Maa’idah ayat 82 :
Sungguh akan engkau dapati orang-orang yang paling keras permusuhan terhadap orang-orang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Musrik, dan sesungguhnya akan engkau dapati (pula) orang-orang yang paling dekat kasih sayangnya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang berkata “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani (Kristen)”.
Yang demikian itu disebabkan diantara mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib dan sesungguhnya mereka itu tidak menyombongkan diri.


































BAB V
KESIMPULAN

Pandangan Islam yang tertuang dalam Kitab Al Qur’an dan Kitab Hadits Shahih Bukhari tentang Isa AS sungguh menakjubkan. Kita dapat menarik dua kesimpulan dari Kitab Al Qur’an , yaitu :

Pertama
Tentang bagaimana caranya Al Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam dapat dipahami secara benar.
Kedua
Tentang bagaimana Al Qur’an menonjolkan kedudukan Isa AS yang selalu dikaitkan dengan Allah SWT.


V.1 KESIMPULAN PERTAMA
Untuk memahami Al Qur’an secara benar kita harus mengikuti petunjuk yang dituangkan dalam ayat-ayat Al Qur’an dengan menggunakan akal dan pikiran sehat agar kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang sesat. Untuk mendapatkan pikiran yang benar itu maka perlu membaca dan mendalami Al Qur’an dengan cara membaca Alkitab, karena menurut surat 43 Az Zukhruf ayat 4 menyebutkan bahwa Al Qur’an itu berada dalam induk Alkitab. Oleh sebab itu, untuk dapat memahami Al Qur’an secara benar haruslah Alkitab ini dibaca karena Alkitab memberi petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus sebagaimana yang dituangkan dalam surat 46 Al Ahqaaf 30.

Adapun maksud diturunkannya Al Qur’an melalui Muhammad SAW ialah untuk :

Untuk memberi peringatan kepada bangsa Arab agar mereka kembali ke agama Tauhid yaitu menyembah Tuhan Yang Maha Esa dengan mengukuhkan Taurat dan Injil.
Untuk mengukuhkan keberadaan Al Qur’an dalam induk Alkitab oleh sebab itu untuk memperoleh kebenaran dan keselamatan sudah seharusnya berpegang kepada Alkitab sebagaimana yang disabdakan oleh Muhammad SAW sebelum beliau wafat

“Kutinggalkan untuk kamu dua perkara (pusaka), tidaklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegan pada keduanya, yaitu Alkitab dan Sunnah RasulNya.

Yang dimaksud dengan Alkitab tidak lain adalah Taurat dan Injil, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sedangkan yang dimaksud dengan sunnah RasulNya ialah segala tindakan dan perintah dari Isa AS sebagai RasulNya (Rasul dari Alkitab) tersebut.
Dalam hubungan ini perlu diketahui bahwa kitab Al Qur’an belum terwujud pada waktu Muhammad SAW wafat, tetapi baru sesudah kurang lebih 15 tahun beliau wafat.



V.1 KESIMPULAN KEDUA
Ada delapan hal yang menonjol dari pandangan Islam berdasarkan Al Qur’an dalam mengemukakan pribadi Isa AS yang selalu dikaitkan dengan Allah SWT, yaitu :

Bahwa Isa AS adalah seorang yang paling terkemuka kedudukannya di dunia dan akhirat (Surat 3 Alli Imraan 45). Seorang yang terkemuka di dunia adalah seorang yang tertinggi kedudukannya di dunia yg dapat diumpamakan sbg raja dunia. Sedangkan seorang yg terkemuka di akhirat mempunyai kedudukan yang sama kedudukannya dengan Allah SWT. Mengapa ??? Sebab hanya Allah SWT saja yang boleh menjadi yg tertinggi dan terkemuka di akhirat. Karena Allah SWT menyaksikan segala sesuatu.
Bahwa Isa AS dapat menciptakan makluk hidup yaitu burung dari tanah dan menghidupkan orang mati. Sedangkan kemampuan yang sebagaimana dimiliki Isa AS hanyalah dapat dimiliki oleh Allah SWT, karena Allah SWT adalah yang berhak menghidupkan dan mematikan segala makluk di alam semesta ini.
Bahwa Isa AS tidak menerima wahyu seperti nabi-nabi lainnya tetapi langsung berbicara firman Tuhan bahkan sejak dari bayi sampai dewasa menunjukkan bahwa Allah SWT ada di dalam Isa AS dan berbicara langsung melalui mulut Isa AS.
Bahwa Isa AS adalah satu-satunya makluk manusia di dunia yang tidak bisa disentuh setan atau iblis sekalipun, berarti bahwa Isa AS adalah satu-satunya makluk yg paling murni kesucianNya. Kesucian yang paling murni hanyalah dimiliki oleh Allah SWT.
Allah SWT telah mengingatkan kepada kita melalui ayat-ayat Al Qur’an bahwa Taurat dan Injil yg disiarkan oleh Isa AS memberi petunjuk kepada kebenaran dan jalan yang lurus. (Surat 46 Al Ahqaaf ayat 30)
Bahwa hanya Isa AS dan Allah SWT yang menjadi saksi pada hari kiamat di mana Isa AS adalah hakim yang adil dan yang menentukan siapa yang masuk surga atau neraka. Hal ini berarti bahwa Isa AS memiliki wewenang yg sama dengan wewenang Allah SWT dalam menentukan seseorang masuk surga atau neraka.
Bahwa Isa AS adalah satu-satunya nabi yang tidak mempunyai makam kuburannya karena setelah Dia mati, Dia hidup kembali dan diangkat kembali kepada diri Allah SWT. Dengan demikian, maka Isa AS akan hidup terus karena IA berada di dalam diri Allah SWT dan menyatu denganNya.
Karena pengikut-pengikut Isa AS yg disebut orang Kristen (yang juga sering disebut Ahli Kitab) percaya bahwa Isa AS adalah Allah SWT, maka mereka langsung masuk surga, sedangkan ummat di luar pengikut Isa AS harus masuk neraka terlebih dahulu.

Dengan melihat kesemua point di atas, jelas sekali bahwa Al Qur’an sebenarnya adalah firman Allah yang mengungkapkan bahwa Isa AS adalah Allah SWT sendiri yang turun menjadi manusia, yang patut disembah dan kita harus bertaqwa serta taat kepadaNya agar kita dapat menerima surga keselamatan yang dijanjikan tersebut.






Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa Allah harus sampai turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia ??? Apakah agama-agama yang telah ada tidak dapat mengantarkan manusia ke dalam keselamatan surga ???

Agama dengan syariat-syariatnya yang harus ditaati dan dilaksanakan sepenuhnya sepanjang umur hidup manusia. Apakah selama hidup kita (dengan kekuatan manusia sendiri) mampu untuk melaksanakan kesemua hal tersebut ?? Seberapa tekunkah kita mampu untuk selalu menjalankan syariat-syariat tersebut, dan adakah tolak ukur yang pasti dalam menjalankannya agar kita dapat menerima surga keselamatan tersebut ??
Jawabannya adalah “TIDAK ADA TOLAK UKUR YANG PASTI”.

Dengan tidak adanya tolak ukur yang pasti tersebut, maka hampir seluruh agama yang ada dalam doanya selalu memanjatkan permohonan agar ditunjukkan ‘SUATU JALAN YANG LURUS’ yang dapat mengantarkan manusia kepada surga keselamatan tersebut.
(Tidak terkecuali umat Islam saat ini).

Allah SWT juga menyadari hal tsb, sehingga Dia sendiri perlu turun ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan neraka abadi, untuk membawa manusia ke dalam surga keselamatan tersebut.

Sebagai seorang muslim yg saleh sudah seharusnya percaya kepada ayat-ayat Al Qur’an sebagaimana telah dijelaskan di atas, sebab bagi orang-orang yang tidak percaya dan ingkar terhadap ayat-ayat Al Qur’an tersebut, orang tersebut dianggap sebagai orang kafir terhadap Isa AS dan hatinya akan dikunci Allah dan menerima siksaan, sebagaimana tertuang dalam ayat-ayat Al Qur’an sbb :

Surat 4 An Nisaa ayat 155-156 :
Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci hati mereka karena kekafiran mereka, maka mereka tidak beriman kecuali sedikit. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zinah).

Surat 4 An Nisaa ayat 150-151 :
Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Allah dan rasulNya, dan mereka menghendaki untuk memisahkan antara Allah dan rasulNya, dan mereka berkata: “Kami beriman kepada sebahagian dan ingkar kepada sebahagian”, dan mereka menghendaki untuk mengambil suatu jalan diantara yang demikian itu, mereka itulah orang yang benar-benar kafir, dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan.







Sedangkan bagi orang-orang yg tidak percaya dan ingkar kepada Al Qur’an, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam neraka :

Surat 2 Al Baqarah ayat 39 :
Dan orang-orang yg ingkar dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.

Surat 3 Aali Imraan ayat 4 :
Sesungguhnya orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Kami, bagi mereka azab yang berat. Dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa).

Surat 4 An Nisaa ayat 56 :
Sesungguhnya orang-orang kafir terhadap ayat-ayat Kami, akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka, setiap kulit mereka hangus, Kami gantikan dengan kulit yg lain agar mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Oleh sebab itu bagi orang-orang Muslim, sebaiknya kita hidup berkenan kepada Allah SWT dan seyogyanya kita menjadi muslim yg soleh yang beriman kepada Allah SWT dan percaya kepada ayat-ayat Al Qur’an yg diturunkanNya dan berjanji kepada Allah.

Bahwa di dalam melakukan ibada shalat 5 kali sehari dengan jumlah raka’at 17 raka’at, pada setiap raka’at kita selalu mengucapkan Alfaatihah dengan antara lain ayatnya yg ke-6 yg berbunyi :

“Ihdinas Shiraathal Mustaqiim”, yang berarti “Tunjukilah kami jalan yang lurus”.

Dengan demikian, hampir setiap hari minimal 17 kali kita meminta kepada Allah SWT agar ditunjukkan jalan yang lurus selama umur hidup kita.

Sebenarnya, permohonan kita tersebut sudah dijawab oleh Allah SWT dalam Al Qur’an surat Az Zukhruf ayat 61 dan 63 yang menyatakan bahwa jalan yang lurus itu sesungguhnya ada pada Isa AS yang akan menjadi tanda bagi kiamat dan tidak boleh diragukan. Oleh karena itu, kita harus percaya kepada Allah SWT dan taat kepada Isa AS, sebab inilah jalan yang lurus.

Surat 43 Az Zukhruf ayat 61 :
Dan sesungguhnya dia (Isa) adalah suatu tanda bagi khiamat, maka janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu, dan ikutilah AKU, inilah JALAN YANG LURUS.
(Wa innahu la’ilmul lis saa’ati fa laa tamtarunna bihaas wa tabi’uuni haadzaa shiraathum mustaqiim)



Surat 43 Az Zukhruf ayat 63 :
Dan ketika Isa datang membawa keterangan-keterangan, Dia berkata “ Sungguh AKU datang kepada kamu dengan hikmah dan supaya AKU terangkan kepada kamu sebagian dari apa yang kamu perselisihkan kepadaNYA”. Maka taqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaKU.

Disamping surat Az Zukhruf tersebut, maka jalan yang lurus telah dituangkan oleh Allah SWT di dalam surat Al Ahqaaf ayat 30 yang menyatakan bahwa kitab Taurat dan Injil memberi petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

Surat 46 Al Ahqaaf ayat 30:
Mereka berkata “Hai kaum kami”. Sesungguhnya kami telah mendengar (Injil) yang diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab sebelumnya (Taurat), yang memberikan petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

Memohon terus menerus dengan permohonan yang sama kepada Allah SWT sejak kita belajar beribadah shalat sampai kepada akhir hayat kita memberi kesan seolah-olah Allah SWT tidak menjawab doa permohonan kita, padahal sesungguhnya Allah SWT sudah langsung menjawab permohonan doa kita. Masalahnya sekarang adalah apakah kita akan mengikuti perintah Allah SWT atau tidak ???

Sudahkah kita menerima DIA ???
Surga dan Neraka tergantung pada jawaban anda sekarang ….

Selasa, 20 Januari 2009

Hubbul Wathoni minal Iman (Cinta Tanah Air Sebagian Dari Iman)


Ini jawaban untuk mereka yg memaki-maki Hamas, menyalah-nyalahkan Hamas, dan mengatakan, “Perang ini adalah kesalahan Hamas! Mengapa Hamas nekad melemparkan roket ke Israel!”
Artikel di bawah ini ditulis oleh orang Yahudi Israel sendiri, dimuat di koran terkemuka Israel : Haaretz.
Buat Anda yang berkali-kali posting komen memaki-maki saya, saya sarankan, baca tulisan ini baik-baik (dan sori, saya tidak akan meloloskan komen murahan yang berisi caci-maki. Bila Anda kontra pada pendapat saya, silahkan sampaikan pendapat Anda sendiri dengan elegan dan sopan!). Orang Israel aja (sebagian) bisa mikir bahwa memang mereka sendiri yang salah kok, mengapa Anda malah membela Israel dan menyalah-nyalahkan Hamas?
***
History did not begin with the QassamsBy Amira Hass (Haaretz.com)
(diterjemahkan oleh Dina Y. Sulaeman; frasa dalam [...] adalah penjelasan dari Dina)
Sejarah tidak dimulai dengan roket Qassam. Tapi bagi kita, orang Israel, sejarah selalu dimulai ketika orang Palestina melukai kita dan kemudian luka itu dilepaskan dari konteksnya sama sekali. Kita berpikir bahwa bila kita menimbulkan luka yang lebih besar lagi di tubuh Palestina, mereka akhirnya akan belajar [untuk tidak melukai kita]. Sebagian orang menyebut hal ini sebagai ‘keberhasilan’.
Namun ‘pelajaran’ itu tetap abstrak bagi sebagian besar orang Israel. Media Israel memberitakan informasi yang minim, miskin kebenaran, serta penuh [cerita tentang] jenderal dan orang-orang sejenis mereka . Informasi itu tidak memberi kebanggaan bagi keberhasilan kita: anak-anak yang dibantai dan jasad-jasad yang terkubur di bawah puing-puing, orang-orang terluka yang mati kehabisan darah karena tentara kita menembaki kru ambulans, gadis kecil yang kakinya diamputasi karena lukanya sangat parah akibat [tembakan] berbagai jenis senjata, ayah yang hancur berlinangan air mata, pemukiman pendudukan yang hancur lebur, luka bakar mengerikan akibat fosfor putih [zat kimia yang dipakai pasukan Israel], dan ‘mini-transfer’—puluhan ribu penduduk yang sudah terusir dari rumah mereka dan masih terusir hingga kini, diperintahkan untuk tinggal berjejalan di sebuah area yang secara kontinyu semakin mengecil, dan berada di bawah hujan bom dan granat.
Sejak Otoritas Palestina didirikan, mesin PR (Public Relation) Israel membesar-besarkan bahaya ancaman militer yang ditimbulkan orang Palestina kepada kita. Ketika mereka berpindah dari [penggunaan] batu ke senapan, dari bom Molotov ke bom bunuh diri, dari bom jalanan ke Qassam, dari Qassam ke Grad [peluru kendali], dari PLO ke Hamas, kita berkata dengan nada menang, “Kami sudah bilang, kan? Mereka itu anti Yahudi.” Dan karena itu, kita berhak untuk bersikap buas.
Hal yang membuat militer Israel mampu melakukan kebuasannya –kata yang tepat tak saya temukan di kamus saya- adalah isolasi step-by-step Jalur Gaza. Isolasi itu membuat penduduk Gaza menjadi objek yang abstrak, tanpa nama dan alamat -selain alamat orang-orang bersenjata, dan tanpa sejarah sejak hari yang ditetapkan oleh agen keamanan Shin Bet.
Pengepungan Gaza tidak dimulai ketika Hamas menguasai organ keamanan di sana, atau ketika Gilad Shalit ditawan, atau ketika Hamas terpilih dalam pemilu demokratis. Pengepungan itu dimulai th 1991-sebelum ternjadi bom bunuh diri. Dan sejak itu, proses pengepungan menajdi semakin canggih dan mencapai puncaknya tahun 2005.
Mesin PR Israel dengan gembira menampilkan proses penarikan pasukan [thn 2005] sebagai berakhirnya pendudukan, tanpa tahu malu menutupi fakta sesungguhnya. Isolasi dan penutupan [Gaza] disebut-sebut sebagai ‘keperluan militer’. Tapi kita adalah gadis dan bujang yang sudah besar, dan kita paham bahwa ‘keperluan militer’ dan kebohongan yang terus-menerus itu demi mecapai tujuan negara. Tujuan Israel adalah untuk menggagalkan ‘solusi dua negara’ yang diharapkan dunia sejak Perang Dingin berakhir tahun 1990. Ini bukanlah solusi yang sempurna, tapi orang Palestina akhirnya bersedia menerimanya.
Gaza bukanlah kekuatan militer yang menyerang tetangganya yang kecil dan pencinta damai, Israel. Gaza adalah wilayah yang dijajah Israel tahun 1967, bersama dengan Tepi Barat. Penduduknya adalah bagian dari bangsa Palestina, yang kehilangan tanah dan tanah airnya pada tahun 1948.
Pada tahun 1993, Israel memiliki kesempatan emas untuk membuktikan kepada dunia bahwa apa yang dikatakan orang tentang kita tidaklah benar, bahwa Israel bukan negara kolonialis. Bahwa pengusiran sebuah bangsa dari tanah air mereka demi pendirian [negara] Yahudi bukanlah basis dan inti dari keberadaan Israel. Pada tahun 1990-an [proses perundingan Oslo], Israel memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa [kejadian] tahun 1948 bukanlah paradigma Israel.
Tapi, Israel melepaskan kesempatan itu. Bahkan, Israel mempercanggih teknik perampokan tanah dan pengusiran orang-orang dari rumah mereka; dan mengepung orang-orang Palestina di wilayah yang terisolasi. Dan sekarang, selama hari-hari yang gelap ini, Israel sedang membuktikan bahwa 1948 tidak pernah berakhir.
Source : Dina Y. Sulaeman - Blog

Indonesia Berhutang Jasa Dengan Palestine


Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap negara tersebut. Hari ini ketika Palestina diserang, mengapa kita (bangsa Indonesia) ikut sibuk?
Sebagai orang Indonesia, sejarah menjelaskan bahwa kita berhutang dukungan untuk Palestina dan negara arab lain.
Dari berbagai sumber yang diperoleh, Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.
Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc.
Kenapa Kita Memikirkan Palestina?
M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.
Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia: pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia.
Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan. Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.
Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI.
Seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia”. Setelah itu dukungan mengalir, di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah.
Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Shalat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dalam pertempuran yang sangat dahsyat itu.
Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said. Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu.
Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah putih? tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan.
Sekarang bagaimana rasannya saat melihat bendera kita di kibarkan oleh bangsa lain dengan kesadaran penuh menunjukan rasa solidaritasnya, karena mereka peduli Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan: “Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”
Tentu saja, motivasi yang kita bangun tidak hanya dari aspek historis, namun ini kita dapat ambil sebagai sebuah pelajaran untuk mengingatkan kembali betapa palestina pernah melakukan hal yang sama terhadap Indonesia. (jk/dak/sm/berbagai sumber/www.suara-islam.com)

Kamis, 15 Januari 2009

Kaum Yahudi Iran Tolak Pindah ke Israel

Orang-orang Yahudi di Iran menolak dipindahkan ke Israel meski ditawari uang dengan jumlah besar. Mereka menyatakan kesetiaan mereka sebagai bagian dari rakyat Iran.
Seorang Yahudi perantauan yang sangat kaya, lewat lembaga dana yang didirikannya, menawarkan insentif bagi orang-orang Yahudi di Iran berupa uang tunai yang besarnya antara 5 ribu pounsterling per orang sampai 30 ribu poundsterling per keluarga, jika mereka mau pindah ke Israel.
Penawaran itu atas restu dari para pejabat Israel dan merupakan dana tambahan dari paket yang biasa diberikan Israel bagi para Yahudi diaspora yang bersedia beremigrasi ke Israel.
Saat ini, jumlah komunitas Yahudi di Iran mencapai 25 ribu orang, dan mereka termasuk komunitas yang cukup kuat. “Identitas Yahudi Iran tidak diperdagangkan demi sejumlah uang, ” demikian bunyi pernyataan resmi komunitas Yahudi Iran.
Mereka juga menyatakan, “Yahudi Iran adalah bagian dari masyarakat Iran yang tertua. Yahudi Iran mencintai kebudayaan dan identitas ke-Iran-an mereka. Oleh sebab itu, mereka yang mengeluarkan ancaman-ancaman dan bujukan-bujukan politik, tidak akan berhasil mencapai tujuan mereka untuk menghapus identitas Yahudi Iran.”
Surat kabar terbitan Israel, Ma’ariv melaporkan, jumlah insentif sebenarnya sudah dinaikkan dua kali lipat, karena tawaran pertama sebesar 2. 500 poundsterling gagal untuk membujuk para Yahudi Iran agar mau pindah ke Israel. Setelah jumlahnya dinaikkan dua kali lipat, kaum Yahudi di Iran tetap menolak pindah ke Israel.
Tokoh Yahudi Iran, Morris Motamed mengatakan tawaran insentif itu merupakan pelecehan dan menjadi ujian bagi orang-orang Yahudi atas kesetiaan mereka pada Iran.
“Tawaran itu seolah-olah Yahudi Iran bisa dipaksa dengan sejumlah uang. Yahudi Iran selama ini selalu bebas untuk beremigrasi dan 3/4 dari mereka beremigrasi pasca revolusi Islam, tapi 70 persen dari mereka pergi ke Amerika, bukan ke Israel, ” kata Motamed.
Populasi Yahudi Iran menurun sekitar 80 ribu orang pada saat pecah revolusi Iran tahun 1979, namun jumlahnya di Iran masih tetap yang terbesar dibandingkan di negara-negara Timur Tengah lainnya. Kaum Yahudi sudah hidup di Iran sejak 700 tahun sebelum Masehi.
Persoalan yang kerap terjadi antara pemerintah Iran dan kaum Yahudi Iran, adalah masalah ketidakpercayaan dan pengawasan oleh pemerintah Iran. Pada tahun 2000, sepuluh orang Yahudi di selatan kota Shiraz ditahan karena menjadi mata-mata untuk Israel.
Seorang pengusaha Yahudi bernama Ruhollah Kadkhodah-Zadeh, dihukum gantung pada tahun 1998 dengan tuduhan telah membantu orang-orang Yahudi beremigrasi.
Secara umum, kaum Yahudi di Iran berusaha menghindari kontroversi. Tahun 2006 lalu, Motamed menulis surat protes pada Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad karena telah menyebut holocaust sebagai sebuah “mitos.”
Meski demikian, di Iran, kaum Yahudi bebas melakukan ibadah agamanya dan boleh mengelola sekolahnya sendiri. Dan meski Iran-Israel tidak punya hubungan diplomatik, kaum Yahudi Iran bisa kapan saja pergi ke Israel untuk berkunjung ke kerabat mereka. (ln/guardian)
Source : http://www.eramusli m.com/berita/ int

Selasa, 06 Januari 2009

Puasa asyura

SEJARAH DAN KEUTAMAAN PUASA ASYURASesungguhnya hari Asyura (10 Muharram) meski merupkan hari bersejarah dan diagungkan, namun orang tidak boleh berbuat bid'ah di dalamnya. Adapun yang dituntunkan syariat kepada kita pada hari itu hanyalah berpuasa, dengan dijaga agar jangan sampai tasyabbuh dengan orang Yahudi."Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa." [1]"Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya :"Apa ini?" Mereka menjawab :"Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab :"Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu." [2]Dua hadits ini menunjukkan bahwa suku Quraisy berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliyah, dan sebelum hijrahpun Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melakukannya. Kemudian sewaktu tiba di Madinah, beliau temukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, maka Nabi-pun berpuasa dan mendorong umatnya untuk berpuasa.Diriwayatkan pada hadits lain."Artinya : Ia adalah hari mendaratnya kapal Nuh di atas gunung "Judi" lalu Nuh berpuasa pada hari itu sebagai wujud rasa syukur"[3]"Artinya : Abu Musa berkata : "Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya, maka Rasulllah Shallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Puasalah kalian pada hari itu" [4]"Artinya :Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari Asyura, maka beliau menjawab : "Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin" [5]CARA BERPUASA DI HARI ASYURA[1]. Berpuasa selama 3 hari tanggal 9, 10, dan 11 MuharramBerdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafadz sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda dan al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2/2:"Selisihilah orang Yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya."Dan pada riwayat ath-Thahawi menurut penuturan pengarang Al-Urf asy-Syadzi:"Puasalah pada hari Asyura dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi."Namun di dalam sanadnya ada rawi yang diperbincangkan. Ibnul Qayyim berkata (dalam Zaadud Ma'al 2/76):"Ini adalah derajat yang paling sempurna." Syaikh Abdul Haq ad-Dahlawi mengatakan:"Inilah yang Utama."Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari 4/246 juga mengisyaratkan keutamaan cara ini. Dan termasuk yang memilih pendapat puasa tiga hari tersebut (9, 10 dan 11 Muharram) adalah Asy-Syaukani (Nailul Authar 4/245) dan Syaikh Muhamad Yusuf Al-Banury dalam Ma'arifus Sunan 5/434Namun mayoritas ulama yang memilih cara seperti ini adalah dimaksudkan untuklebih hati-hati.Ibnul Qudamah di dalam Al-Mughni 3/174 menukil pendapat Imam Ahmad yang memilih cara seperti ini (selama tiga hari) pada saat timbul kerancuan dalam menentukan awal bulan.[2]. Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 MuharramMayoritas Hadits menunjukkan cara ini:"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa. Para shahabat berkata:"Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi." Maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9.", tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah wafat."[6]Dalam riwayat lain : "Artinya : Jika aku masih hidup pada tahun depan, sungguh aku akan melaksanakan puasa pada hari kesembilan."[7].Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata (Fathul Baari 4/245) :"Keinginan beliau untuk berpuasa pada tanggal sembilan mengandung kemungkinan bahwa beliau tidak hanya berpuasa pada tanggal sembilan saja, namun juga ditambahkan pada hari kesepuluh. Kemungkinan dimaksudkan untuk berhati-hati dan mungkin juga untuk menyelisihi kaum Yahudi dan Nashara, kemungkinan kedua inilah yang lebih kuat, yang itu ditunjukkan sebagian riwayat Muslim""Artinya : Dari 'Atha', dia mendengar Ibnu Abbas berkata:"Selisihilan Yahudi, berpuasalah pada tanggal 9 dan 10".[3]. Berpuasa Dua Hari yaitu tanggal 9 dan 10 atau 10 dan 11 Muharram"Berpuasalah pada hari Asyura dan selisihilah orang Yahudi, puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya"Hadits marfu' ini tidak shahih karena ada 3 illat (cacat):[a]. Ibnu Abi Laila, lemah karena hafalannya buruk.[b]. Dawud bin Ali bin Abdullah bin Abbas, bukan hujjah[c]. Perawi sanad hadits tersebut secara mauquf lebih tsiqah dan lebih hafal daripada perawi jalan/sanad marfu'Jadi hadits di atas Shahih secara mauquf sebagaimana dalam as-Sunan al-Ma'tsurah karya As-Syafi'i no 338 dan Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar 1/218.Ibnu Rajab berkata (Lathaiful Ma'arif hal 49):"Dalam sebagian riwayat disebutkan atau sesudahnya maka kata atau di sini mungkin karena keraguan dari perawi atau memang menunjukkan kebolehan…."Al-Hafidz berkata (Fathul Baari 4/245-246):"Dan ini adalahl akhir perkara Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dahulu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam suka menyocoki ahli kitab dalam hal yang tidak ada perintah, lebih-lebih bila hal itu menyelisihi orang-orang musyrik. Maka setelah Fathu Makkah dan Islam menjadi termahsyur, beliau suka menyelisihi ahli kitab sebagaimana dalam hadits shahih. Maka ini (masalah puasa Asyura) termasuk dalam hal itu. Maka pertama kali beliau menyocoki ahli kitab dan berkata :"Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian (Yahudi).", kemudian beliau menyukai menyelisihi ahli kitab, maka beliau menambah sehari sebelum atau sesudahnya untuk menyelisihi ahli kitab."Ar-Rafi'i berkata (at-Talhish al-Habir 2/213) :"Berdasarkan ini, seandainya tidak berpuasa pada tanggal 9 maka dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 11"[4]. Berpuasa pada 10 Muharram sajaAl-Hafidz berkata (Fathul Baari 4/246) :"Puasa Asyura mempunyai 3 tingkatan, yang terendah berpuasa sehari saja, tingkatan diatasnya ditambah puasa pada tanggal 9, dan tingkatan diatasnya ditambah puasa pada tanggal 9 dan 11. Wallahu a'lam."[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun V/1421H-2001M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]__________Foote Note[*]. Diolah oleh Aris Munandar bin S Ahmadi, dari kitab Rad'ul Anam Min Muhdatsati Asyiril Muharram Al-Haram, karya Abu Thayib Muhammad Athaullah Hanif, tahqiq Abu Saif Ahmad Abu Ali[1]. Hadits Shahih Riwayat Bukhari 3/454, 4/102-244, 7/147, 8/177,178, Ahmad 6/29, 30, 50, 162, Muslim 2/792, Tirmidzi 753, Abu Daud 2442, Ibnu Majah 1733, Nasa'i dalam Al-Kubra 2/319,320, Al-Humaidi 200, Al-Baihaqi 4/288, Abdurrazaq 4/289, Ad-Darimy 1770, Ath-Thohawi 2/74 dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya 5/253[2]. Hadits Shahih Riwayat Bukhari 4/244, 6/429, 7/274, Muslim 2/795, Abu Daud 2444, Nasa'i dalam Al-Kubra 2/318, 319, Ahmad 1/291, 310, Abdurrazaq 4/288, Ibnu Majah 1734, Baihaqi 4/286, Al-Humaidi 515, Ath-Thoyalisi 928[3]. Hadits Riwayat Ahmad 2/359-360 dengan jalan dari Abdusshomad bin Habib Al-Azdi dari bapaknya dari Syumail dari Abu Hurairah, Abdusshomad dan bapaknya keduanya Dha'if.[4]. Hadits Shahih Riwayat Bukahri 4/244, 7/274, Muslim 2/796, Nasa'i dalam Al-Kubra 2/322 dan Al-Baihaqi 4/289[5]. Hadits Shahih Riwayat Muslim 2/818-819, Abu Daud 2425, Ahmad 5/297, 308, 311, Baihaqi 4.286, 300 Abdurrazaq 4/284, 285[6]. Hadits Shahih Riwayat Muslim 2/796, Abu Daud 2445, Thabary dalam Tahdzibul Atsar 1/24, Baihaqi dalam Al-Kubra 4/287 dan As-Shugra 2/119 serta Syu'abul Iman 3506 dan Thabrabi dalam Al-Kabir 10/391[7]. Hadits Shahih Muslim 2/798, Ibnu Majah 736, Ahmad 1/224, 236, 345, Baihaqi 4/287, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanafnya 3/58, Thabrani dalam Al-Kabir 10/401, Thahawi 2/77 dan lain-lain

Jumat, 02 Januari 2009

SAYID QUTUB DALAM PERSPEKTIF

Sayyid Qutub adalah radikal, ekstrim. Sayyid Qutub adalah Islamis.” Pandangan tersebut disampaikan oleh para peserta diskusan, Mizan Studi Club (Kajian Pemikiran Kontemporer dan Dirasat Islamiyah), pada hari Selasa kemarin, 7 September 1999. Cukup plural diskusan menyampaikan analisanya terhadap pemikiran Syahid Sayyid Qutub (selanjutnya dibaca SQ). Tidak lepas dilatar belakangi dengan khazanah intelektualnya yang ia kuasai, dengan tetap menjaga etika dialog, agar terjadi suatu toleransi berpikir yang kondusif, didorong oleh keinginan untuk mengakomodasi semua pemikiran yang muncul kepermukaan, yang nantinya dapat diinventarisir menajdi sebuah kerangka pemikiran dalam melihat paradigma pemikiran sang syahid.
Telah menjadi omongan semua orang akan kepiawaian SQ dalam memimpin gerakan Ikhwan Muslimun dan, dengan jiwa tinggi berani mengahadapi segala konsekuensinya, meskipun harus dihukum gantung.
Pada kesempatan itu, penulis sampaikan pada rekan-rekan bahwa SQ ialah seorang pemikir besar. Adapun mengapa ia harus masuk pada lingkaran pergerakan, sehingga terkadang orang memasukan SQ pada jajaran Islamis. Penulis tegaskan, karena tidak luput dari latar belakang dimana ia hidup dan bagaimana kondisi sosial pada saat ia hidup.
Dengan menggunakan kaca mata pendekatan sosiologi dan antropologi. Kita dapat meliahat siapakah sebenarnya SQ, sehingga ia cukup “fundamental.”
I). Tempat Kelahiran:
Assiut daerah yang sangat subur bagi pertanian, tanahnya dapat disirami dengan perairan Nil, yang tidak kunjung habisnya, selalu membawa berkah bagi para penduduknya. Suasana alamnya dikelilingi dengan tanaman pertanian. Di daerah tersebut lahirlah seorang bayi yang kelak akan memimpin pergerakan Islam, yang suaranya terdengar dimana-mana, menyerukan pentingnya kembali pada konsep Al-Qur’an dalam berbagai kehidupan. Ayahnya seorang yang kaya raya, suka berdermawan, membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ibunya berpegang teguh pada ajaran Agama, sabar dalam menghadapi hidup yang dijalaninya. Walaupun nanti ibunya harus menerima nasib, semua kekayaan suaminya habis karena dipakai untuk membantu semua orang tanpa memikirkan kepentingan keluarganya. Dengan kekuatan iman, nasib tersebut dapat dihadapi dengan teguh dan penuh kepasrahan pada Sang Maha Kuasa.
II). Perjalanan Hidup:
Putihnya air Nil telah membentuk SQ berhati bersih, ihklash menjalankan semua tanggungjawab yang dipercayakan pada dirinya. Selalu berusaha menjadi orang yang bisa memberikan kesegaran, ketenangan pada orang-orang yang berjiwa “keras,”disatu sisi, kesucian hatinya bisa melahirkan mental yang tangguh menghadapi problema hidup, berani menegakan keadilan walaupun itu harus ditebus dengan sebuah pengorbanan jiwa. Jiwa seperti ini, mempengaruhi dan mewarnai para penerus gerakan Ikhwanul Muslimun.
Indahnya alam kampung halaman SQ memberikan inspirasi untuk mendendangkan syai’ir-sya’ir yang mempunyai nilai sastra tinggi, unsur eksosoris dalam lantunan kata-katanya mendeskripsikan keindahan alam yang ia lihat. Tidaklah heran karya SQ dalam kesusastraan menduduki pada jajaran cukup diperhitungkan. SQ pernah dijuluki sebagai Abbas Al-´Aqad “Muda”, karena kritikus sastranya yang tajam dan menambah wacana kesusastran Mesir menjadi kaya dengan aliran kesusastraannya. Novelnya juga mampu merekam kehidupan sosial dengan begitu jitu, mendiagnosa agenda permasalahan mayarakat dan memberikan solusi bagi pemecahannya. Kisi-kisi romantisme tidak ketinggalan jauh memenuhi karya sastranya. Mampu menyamai dengan romantismenya para pujangga lainnya yang sebaya dengan SQ.
Titisan genelogi ayahnya telah membawa SQ menjelma sebagai orang pembela rakyat kecil, yang tertindas tidak mendapatkan kehidupan sebagaimana mestinya. Feodalisme meraja lela, para tuan tanah dengan seenaknya menguasai bumi pertiwi, tidak sadar bahwa Bumi dan Langit ada yang menguasainya dan memilikinya, Allah semata.
Fenomena komuinitas sosial Mesir pada saat itu mendorong SQ untuk memeras pikiran. Bagaimana memformulasi tatanan kehidupan. Jargon keadilan, di antaranya, digulirkan oleh SQ ke blantika perpolitikan. Konsep kehidupan yang diimpor dari luar tidak mendatangkan kebaikan bagi masyarakat malah sebaliknya, kondisi semakin memburuk. Kafitalis, sosialis, komunis tidak membawa udara segar untuk dihirup. “Polusi udaranya” telah merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka SQ menyerukan pentingnya menghidupkan konsep Islam yang telah lama diabaikan. Padahal sejarah telah membuktikan, umat Islam mampu memimpin peradaban manusia sampai menelorkan kemajuan bagi kelangsungan umat manusia.
Ketabahan dan keteguhan memegang prinsip teraliri juga dari darah ibunya. Penyiksaan demi penyiksaan terus menimpa SQ yang dilancarkan oleh pemerintahan. Keluar masuk penjara adalah aktivitasnya, teroran dari mana-mana adalah sarapan paginya, sampai harus memakan “racun” kehidupan ia telan demi tegaknya “Laa iIaha iIlalLah” di bumi ini.
III). Karya Intelektualnya:
Potret kehidupan SQ bisa dibagi kedalam 4 fase kehidupan. Pada setiap fase SQ mempunyai karya yang telah menunjukan bagaimna perjalanan intelektualnya dipenuhi dengan berkarya demi mewarisi perjalanan hidupnya pada generasi mendatang.
Pertama, fase berkarya dalam kesusastraan (1930-1950):
Merupakan fase pembentukan intelektual yang cukup lama dari fase lainnya. pada masa ini SQ telah mengekspresikan pemikirannya dalam beberapa buku, di antaranya; Muhimmatu’l Sya’ir Fi’l Hayat (1932), al-Naqdu’l Adaby; Ushuluhu wa Manahijuhu (1947), al-Syathi’ al-Majhul (1934), al-Madinah al-Masyhurah, Asywak, al-Athyaf u’l Arba’ah, Thiflun Mina’l Qaryah (1945). Al-Tashwiru’l Fanny fi’l Qur’an (1945), Masyahidu’l Qiyamah fi’l Qur’an.
Kedua, fase yang berorientasi pada kesosialan (1951-1953):
Terformulasilah pemikirannya dalam keadilan, yaitu yang kita dapati dibuku-bukunya; al-´Adalah al-Ijtima’iyah (1951), Ma’rakah al-Islam wa Ra’samaliyah, al-Salam al-Alamy wa’l Islam, Dirasat Islamiyah.
Ketiga, fase intelektual yang terformulasi dalam filsafat (1954-1962):
Karya yang mungkin dikategorikan pada fase ini adalah: Khashaish al-Tashawwur al-Islamy wa Muqawamatuhu, pada akhir tahun 50-an, al-Mustaqbal Lihadza al-Dien, Nahwa Mujtama’ Islamy, Hadza al-Dien dikarang tahun 1954, al-Islam wa Musykilat al-Hadharah.
Keempat, fase berpolitk (1963-1964):
Fase keempat masuk penjara dan terelaborasikan dalam buku momentalnya Ma’alim Fi’l Thariq, Fi Dlilal al Qur’an
IV). Aktualisasi Pemikiran Sayyid Qutub:
Pertanyaan yang akan muncul pada diri kita sekarang, bagaimana mengaktualkan karya-karya SQ kedalam realita yang kita hadapi sekarang. Dalam rangka menghidupkan konsep pemikiran SQ yang tercurahkan dalam penyeruannya terhadap pentingnya kembali pada dasar utama Al-Qur’an.
Permasalahan yang akan timbul juga dibenak pikiran kita ialah, mampukah kita berinteraksi dengan dunia yang semakin komplek, sosial kultural sudah berbeda ketika SQ hidup. Terkadang antara teori dan praktik sering bertentanngan atau sulit mensosialisasikannya ketataran alam nyata. Telah banyak orang menyeru untuk kembali pada Al-Qur’an ternyata sering berbenturan dengan kepentingan lain, atau paling tidak sering dihadapkan pada Das Solen dan Das Sain, yang akhirnya, idealisme terkikis oleh kebutuhan pragmatis.
Kemungkinan yang bisa penulis lontarkan di sini, yaitu mencari metode yang bisa berdialog dengan realita tersebut. Dan dapat diterima oleh setiap lapisan masyarakat, jangan hanya SQ dimilki oleh sebagian kalangan tertentu tidak mampu menyentuh segmen masyarakat lainnya. Padahal mereka juga membutuhkan ide yang telah dilontarkan oleh SQ.
Salah satu metode tersebut adalah, pertama menghidupkan sikap moderat dalam berbagai bidang yang kita hadapi. Skala prioritas menjadi standar tujuan kita, lebih banyak memikirkan kepentingan umum ketimbang kepentingan golongan. Dr. Yusuf al-Qaradhawy sering mendengungkan agar umat Islam jangan terlena dengan kepentingan individual. Kemaslahatan umum dinomor duakan.
Kedua, harus selalu menjadikan pemikiran seseorang sebagai ide untuk merumuskan kembali pemikiran yang disesuaikan dengan kebutuhan jamannya. Inti pemikiran SQ hendaknya dijadikan starting point bagi membangun paradigma berpikir yang komperhensif. SQ mengajak untuk kembali pada Al-Qur’an dalam berpijak. Segala kebijakan yang kita ambil tidak lepas dari semangat moralitas religius.
Ketiga, mengembangkan toleransi berpikir, SQ telah lebih jauh mengajak untuk saling bertoleransi, mengahargai pemikiran orang lain. Berjalan pada konsepsi da’wah “serulah pada jalan Allah dengan hikmah, memberikan contoh baik, memeranginya dengan sebaik-baiknya jalan.” Dalam bahasa Ibn Rusyd, Qadhi wal Qudhat dan seorang filosof muslim yang berhasil mempertemukan antara filsafat dan Agama. Ia mengatakan:“kelompok manusia bisa dibagi pada tida bagian, pertama “Khithabiyun,” kedua kelompok orang “Jadaliyun,” dan ketiga “Burhaniyun.”
Nûn Wa’l Qalam Wama Yasturûn.





NASIB WONG CILIK;
Meni’mati Keadilan Dari Pemimpin Yang Adil
Seorang lelaki tua sedang asyik melahap sebuh “Isy” (makanan khas arab, yang terbuat dari gandum), tanpa ada tambahan ikan lainnya. Raut mukanya menampakan keletihan. Setelah beberapa lama bekerja sampai seharian penuh ia mengadu nasib untuk hidup.
“Isy” dimakan sedikit demi sedikit, sambil ditutupinya oleh bungkusan plastik tempat membawa makanan. Alangkah ni’matnya lelaki tua bangka ini, menyantap makanan.
Fenomena hidup “wong kecil” sering dijadikan thema dalam berbagai pertemuan. Hampir seluruh forum diskusi tentang sosial, selalu mengangkat kemisikinan. Entah sampai kapan kemiskinan akan berakhir. Kertas kerja shimposium telah menumpuk, dan memenuhi benak pemikiran mereka, hanya mendiskusikan saja tanpa mencari penerapan lebih konkrit. Bersentuhan langsung dengna kehidupan “wong cilik”.
Semenjal awal Rasulullah memberantas kemiskikanan, yang cukup menonjol di masyarakat Makkah. Golongan aristokrat mendominasi tatanan kehidupan. Sehingga, tidak heran, perilaku kehidupan Rasulullah banyak mencerminkan hidup sederhana. Untuk mengangkat martabat orang miskin, Islam memberikan sugesti bagi mereka, bahwa dihadapan Allah seluruh manusia sama, kecuali orang-ornag bertakwa.
Nilai takwa inilah, yang akhirnya menjadi pemicu semangat kaum muslimin, dan memberi warning bagi kalangan kaya. Harta kekaayaan maupun labelitas keduniaan lainnya tidak bisa dijadikan standar ukuran bagi kemuliaan.
***
Potret kehidupan tadi adalah salah satu pemandangan kehidupan yang penulis temui disela-sela berjalan, bersilaturahmi dengan orang-orang yang “terlupkan.” Mereka hanya bisa mempertahankan hidup saja, tanpa punya kemampuan mengembangkan dalam kehidupan lain, karena semua aspek sektoral telah dimonopoli oleh yang lebih berkuasa.
Permasalahaannya berarti, dikarenakan pemetaan hasil negara kurang terwujudkan. Siklus produktifitas kekayaan berada ditangan-tangan pembesar. Yang tidak peduli dengan orang lain, yang penting dirinya bahagia.
Seseorang berkata sama penulis:”Sampai kapan kehidupan keadilan dapat dini’mati lagi oleh kami, yang hanya makan pagi, makan sore adalah cerita lain lagi. Puasa Senin Kamispun kami harus jalani, tetapi memang kami menemukan mutiara yang berharga bagi kami untuk kelak menjadi saksi di hadapan Sang Rabbul Izzati,” Penulis sempat tersentak dan terenyuh dengan pernyataannya yang bernadakan mengeluh serta penuh kebahagaian yang menjamin kehidupan di akhir kelak.
Penulis ingat pada kehidupan Khalifah Umar bin Khattab, sebagai pemimpin adil dan bijaksana. Berani menegakkan keadilan diatas segalanya. Pada suatu saat Khalifah dihampiri oleh seorang rakyatnya, ternyata sang Khalifah sedang tertidur dibawah hamparan rerumputan. Khalifah kelihatan tidur pulas dan bisa meni’mati dunia ibu pertiwi. Orang tersebut berkata pada Khalifah:”Bagaimana kamu bisa tidur nyenyak seperti ini ? Umar mnejawab karena aku telah menjalankan tugasku menegakkan keadilan, rakyat dapat mencicipi rasanya keadilan.” Hanya pemimpin adil yang dapat membagi keni’matan kepada rakyatnya.
Allah Rahimun Biubadihi.
Rahmat T. Ashari
Mîzân Studî Club
(Kelompok Kajian Pemikiran Kontemporer dan Dirâsât Islâmiyah)

Joserizal, Melihat Keajaiban di Maluku

Mendengar saja tentang kerusuhan berdarah di Maluku Utara orang pasti akanbergidik. Betapa tidak. Ratusan manusia tak berdosa, termasuk ibu-ibu dananak-anak, dibantai dengan sadis. Bahkan, banyak yang mati terpanggang didalam masjid atau di rumah tinggal mereka.Tetapi, bagi dokter Joserizal Jurnalis Sp BO, tragedi itu menyampaikan'panggilan kemanusiaan' untuk terjun langsung ke sana, menolong danmenyelamatkan mereka yang terluka. ''Justru di tengah konflik berdarahseperti di Maluku Utara itulah pertolongan dokter lebih banyakdibutuhkan,'' katanya, kemarin.Sebagai seorang dokter Muslim, Joserizal mengaku terpanggil untukmengamalkan misi Islam sebagai rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi alamsemesta, melalui bantuan medis. ''Ini merupakan prinsip yang harus sayapegang teguh sebagai umat Islam,'' katanya. ''Di manapun kita berada, harusmendatangkan rahmat bagi sesama,'' ujarnya.Di bidang medis, tambahnya, misi rahmatan lil 'alamin harus diejawantahkanpada profesionalitas yang ditunjukkan dengan netralitas dalam memberikanpelayanan medis khususnya untuk korban perang, kekerasan akibat konflik,kerusuhan ataupun bencana alam, baik di dalam maupun di luar negeri.''Berawal dari Tim Medis Mahasiswa Universitas Indonesia (TMM UI), kamimengirim tim medis ke Ambon dan Tual, Maluku Utara,'' tutur Joserizal, yangsaat ini menjadi ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committe (Mer-C),di sela-sela kesibukan yang lain sebagai seorang dokter spesialis bedahtulang.Saat ditemui Republika di markas besar Mer-C di Jl Kramat Kwitang IE 15,Jakarta Pusat, dokter Jose --nama panggilannya-- dengan penuh semangatmenuturkan kiprah organisasi Mer-C, yang secara resmi didirikan padatanggal 14 Agustus 1999. ''Organisasi ini jelas berasaskan Islam danberpegang teguh pada prinsip rahmatan lil 'alamin,'' tuturnya secara lugas.Memperbincangkan masalah kerusuhan di Ambon, Halmahera, dan sekitarnya,bersama dokter Jose, seakan ikut merasakan kepiluan dan penderitaan parakorban konflik berbau SARA itu. Bagaimana tidak? Dokter yang satu inibersama teman-temannya mencebur langsung di kancah pertempuran. Di sama timMer-C banyak menemukan korban luka-luka akibat kerusuhan, yang kurangmendapat perawatan medis.Berdasar pengalamannya, kata dokter Jose, konflik yang terjadi di Ambon,Halmahera dan sekitarnya, memang dapat disebut sebagai perang agama.'Perang' yang terjadi di Ambon dan sekitarnya itu memang menghadapkan duakelompok agama yang berlainan. Bahkan, sebagai tenaga medis, dokter Joseharus meminta jaminan keamanan penuh dari pihak TNI untuk menolong korbankonflik yang berbeda agama dengannya.''Karena tidak gampang seorang dokter Muslim mengobati korban beragamalain. Begitu pula kebalikannya,'' tutur dokter Jose. ''Harus ada jaminankeamanan bagi kami. Meskipun demikian kami telah menunjukkan bahwa kamitidak membeda-bedakan korban dari segi agama atau perbedaan apapun. Semuakorban kami tolong semampu kami,'' tuturnya.Saat pertama kali terjun ke kancah konflik di Tual, dokter Jose harusmerawat korban-korban pertempuran di tempat-tempat yang seadanya, sepertidi serambi masjid. Bahkan, dalam melakukan operasi terhadap korban terpaksadilakukan dengan peralatan dan obat-obatan yang terbatas. ''Ketika ituMer-C belum kami bentuk,'' katanya.Setelah mendapatkan pengalaman pertama itu, dokter Jose bersama TMM UIkemudian memutuskan untuk membentuk organisasi kemanusiaan Mer-C, yangbergerak di bidang kegawatdaruratan, khususnya dalam pertolongan medis,yang bersifat profesional, netral, mandiri, dengan mobilitas yang tinggi.''Keikhlasan hati menjadi faktor utama untuk menjadi relawan di Mer-C.Karena, di sini relawan tidak digaji. Ini yang perlu digarisbawahi,''tegasnya.Berada di tengah konflik berbau SARA di Maluku, dokter Jose mengaku tidakhanya menyaksikan pembantaian dan penderitaan yang luar biasa. Juga tidakhanya melihat korban-korban bergelimpangan yang harus segera mendapatpertolongan. ''Saya juga sempat menyaksikan suatu keajaiban, tanda-tandakekuasaan dan kebesaran Allah, yang mungkin di luar kemampuan nalarmanusia,'' katanya.Dokter Jose menyebut contoh yang terjadi di Tual. Di desa ini, katanya,warga Muslim terdesak di sebuah pantai kecil di dataran rendah. Sementarapasukan merah berada di atas bukit yang mengelilingi pantai tersebut denganjumlah 80 persen lebih banyak. Desa itu seakan 'dipagari' oleh kekuasaanAllah sehingga tidak dapat ditembus oleh pasukan merah.''Sampai saat Desa Tual belum pernah ditaklukkan oleh musuh,'' tutur dokterJose. ''Panah-panah api yang bertebangan dari atas bukit selalu matisendiri sebelum sampai ke sasarannya. Begitu juga drum-drum yang berisibahan bakar dan menyala, yang digelindingkan dari atas bukit, selalu matidan berhenti sebelum mencapai sasaran.''Peristiwa-peristiwa luar biasa seperti itulah yang menyebabkan dokter Joseselalu rindu untuk kembali ke Ambon. ''Di sana, saya bisa melihatorang-orang yang berjuang dengan penuh keikhlasan hati,'' kenang dokteryang telah mempunyai tiga putra ini.Saat ini, Mer-C telah mengirimkan tim medis ke berbagai kancah konflik.Selain memberangkatkan tim Mer-C ke Ambon dan Halmahera, juga mengirimkantim medis ke Aceh. Pengiriman anggota Mer-C terakhir, menurut Jose,dilakukan pada tanggal 2 Maret 2000. Terdiri dari empat dokter yangmengikuti program PTT Departemen Kesehatan di Maluku. ''Melalui empatdokter ini Mer-C mengirimkan bantuan logistik,'' katanya.Pada kesempatan ini Joserizal mengetuk hati para dokter terutama dokterbedah, dari manapun mereka berasal, untuk ikut terjun dalam misi sosialkemanusiaan melalui Mer-C. Namun, ia mengingatkan bahwa untuk bergabungdengan MER-C harus berlandaskan pada keikhlasan hati karena tidak digaji.''Para dokter jangan hanya mementingkan praktek komersial saja,'' katanya.Jika ada dermawan yang ingin untuk menjadi donatur, tambahnya, kepadaRepublika dokter Jose menitipkan nomor rekeningnya di Bank MuamalatIndonesia Cabang Kramat, Jakarta, Nomor 301.00349.15 atau di Bank BNI 46Cabang Kramat, Jakarta, Nomor 001129556.001. Keduanya atas nama MedicalEmergency Rescue Committe.Meski tidak menolak jenis-jenis bantuan lainnya, dokter Jose mengharapkanbantuan kemanusiaan lebih diutamakan berupa obat-obatan, alat-alat medisserta logistik. ''Kami akan menyampaikan bantuan sesuai dengan amanahnya.''